Jumaat, 20 Januari 2017

Tanda yang begitu hampir?!


DIA MEMBAWA NASH LANTIKAN DARI ALLAH DAN RASUL
DIA MEMBAWA  ILMU DAN HIKMAH DARI ALLAH
SERUAN DAKWAHNYA BAI'ATU lILLAH

MAKA DIA ADALAH KHALIFAH ALLAH AL-MAHDI



Tanda yang begitu hampir?!

Allah berikan jawapanNya

﴿قُلْ هُوَ نَبَأٌ عَظِيمٌ  *انْتُمْ عَنْهُ مُعْرِضُونَ*   ........ وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ﴾

    {Katakanlah: "Ia adalah berita yang besar,* yang kamu berpaling daripadanya *.......... Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) beritanya setelah beberapa waktu lagi.):[Shaad 38:67,68 dan 88].

Rasulullah (S) telah menerangkan peringkat-peringkat zaman umat Islam sejak baginda diutus oleh Allah hingga hari Kiamat.


Sabda Rasulullah:

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

3.    Dua Mahdi atau Imam Mahdi mengutus pememegang wasiatnya, utusannya, yang pertama beriman atau ketua ansar Imam Mahdi.
4.    Tokoh-Tokoh Yang Keluar Di Akhir Zaman
5.    Peraturan Mengenal Hujah Allah
a.    perlantikan atau wasiat Rasulullah.
b.    Dia memlilki Ilmu dan Hikmah.
c.    Seruan mentaati khalifah Allah. – bai’atu Lillah

6.    Siapa yang menyeru supaya beriman dengan Al-Mahdi dan apakah tindakan penyeru (Al-Mahdi) dan umat manusia.


“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” Baginda kemudian diam. (HR Ahmad dan Al-Bazar).

Menurut hadits di atas ada lima peringkat zaman yang dilalui oleh umat Islam sebelum kiamat Al-Kubra:

1.    Zaman kenabian, Zaman Rasulullah (S) sendiri.
2.    Zaman Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.
3.    Zaman kekuasaan (kerajaan) yang zalim;
4.    Zaman kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan;
5.    Zaman Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian

Tetapi mengapakah kita semua tidak sedar di zaman apa kita sekarang ini, Apakah bila mengatakan Khalifah Allah Al-Mahdi telah keluar itu ia hanyalah kata-kata golongan yang memandai-mandai sendiri. Senenarnya ia adalah dari asas-asas ajaran agama Islam yang diterima pakai dalam ajaran Ahli Sunnah Wal Jamaah. Ia datang bersama hadits yang memperkatakan Rukan Iman dan Islam serta Ihsan (tasauf dan Irfan) dan hal tentang kedatangan Al-Saah atau Kiamat.

Sekarang mari kita lihat hadits Jibril.

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata :
Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di sisi Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya ditemukan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahu kepadaku tentang Islam.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.
Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?”
Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”
Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”
Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”
Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?”
Aku menjawab,”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Baginda bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no. 8]

Dalam Hadits Jibril bukan hanya tentang Islam, Iman dan Ihsan sahaja yang ditanyakan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah (S). Tetapi ia juga menanyakan kepada Rasulullah (S) mengenai Al-Sa’ah dan tanda-tanda Al-Saah. Al-Saah adalah akhir zaman, Kiamat Kecil dan di Akhir Zaman dengan Kiamat Besar..
         
Mengenai Al-Sa’ah saya bawakan satu lagi hadits:

Al-Albani dalam Al-Silsilah Al-Sahihah menjelaskan terdapat hadits yang bermakna:

"Tidak akan terjadi Al-Saah (hari kiamat)  sehingga bumi dipenuhi kezaliman, kecurangan dan permusuhan, kamudian akan keluar seorang lelaki dari 'itrahku atau ahlulbaitku, yang akan memenuhi bumi dengan kesaksamaan dan keadilan setelah dipenuhi kezaliman dan permusuhan." (Hadits riwayat Ahmad, juz 3, hal 36; Ibnu Hibban, hal 1880; Al-Hakim, juz 4, hal 557; Abu Nu'im dalam kitab Al-Hilyah, juz 3, hal 101) .

Para ulamak telah menerangkan tanda-tanda kiamat yang berlaku di akhir zaman. Ada tanda-tanda umum dan ada tanda-tanda khusus. Bagi tanda-tanda seperti ibu yang melahirkan tuannya, Orang-orang Arab yang miskin membina bangunan tinggi yang di sebut dalam Hadits Jibril itu adalah tanda-tanda umum dan tanda-tanda yang lain yang hampir semuanya telah berlaku. Bagi tanda-tanda khusus kiamat yang telah diterangkan dalam hadits-hadits, ada sepuluh:

Yang pertama, Al-Mahdi: seorang lelaki dari Ahlulbait di akhir zaman. Ia akan menguasai dunia dan bumi, serta memenuhinya dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi kezaliman. Ia dari Ahlulbait, Bani Hasyim dari anak keturunan Fatimah (ra). Banyak hadits yang menerangkan tentangnya.
Yang kedua, Al-Dajjal: Keluar Dajjal di akhir zaman. Ia mengaku seorang nabi, kemudian dia mengaku tuhan semesta alam. Hadits-hadits mengenainya sahih dan mutawatir dari Nabi (S).

Yang ketiga: Turunnya Al-Masih bin Maryam
Yang keempat, Keluar Ya`juj wa Ma`juj 

[5] Kemudian Allah membunuh dan mematikan mereka 
[6] Selepas itu Tanda Kabut  (Al-Dukhan), 
[7] Robohnya Ka'bah 
[8] Terangkatnya Mushaf 
[9] Kemudian Keluar Al-Dhabbah Dhabbah Al-Ardh, (binatang bumi),
[10].Terbitnya Matahari Dari Barat 

Ada pula ulamak yang menyusun 10 tanda-tanda itu dalam susunan yang lain

1. Dukhan
2. Al-Mahdi
3. Dajjal keluar – Kurma di Jordan tidak berbuah. Danau Tibiraih menyusut (telah menyusut 2003 – 2013 (di Israel – 45m – telah susut 16m – 2015 (sehingga nampak bukit-bukit di dasar tasik).
4. Bintang berekor (Meteor)
5.Terbitnya Matahari Dari Barat 
6. Dabbah Al-Ardh (binatang bumi),
7. Angin lembut kematian dari timur - org mukmin
8. Penenggelaman daratan sebelah timur -
9. Penenggelaman daratan sebelah barat tinggal – Timur Tengan
10. Muncul Api di Yaman spt gunung – Sangka kala pertama


Itulah tanda-tanda khusus yang dekat dengan berlakunya Al-Saah (hari kiamat). Demikianlah didatangkan dari hadits-hadits yang dijelaskan oleh ahli-ahli ilmu.

Berikut adalah tanda yang sudah dan sedang berlaku”

يحكم الحجاز رجل اسمه اسم حيوان إذا رأيته حسبت في عينه الحول من بعيد، وإذا اقتربت منه لا ترى في  عينه شيئا، يخلفه أخ له اسمه عبدالله، ويل لشيعتنا منه -أعادها ثلاثا- بشروني بموته أبشركم بظهور الحجة
                                                         
“Hijaz akan diperintah oleh seorang lelaki yang namanya adalah nama haiwan, ketika Kamu melihatnya dari jauh, kamu akan berfikir dia memiliki mata juling, dan jika kamu mendekatinya, kamu tidak melihat ada masalah di matanya. Dia akan digantikan oleh saudara lelakinya, bernama Abdullah. Celakalah mengikutinya! Celakalah mengikutinya! Celakalah mengikutinya! – Baginda mengulanginya tiga kali – Beri aku khabar baik tentang kematiannya, maka aku akan memberikan khabar baik tentang munculnya Al-Hujjah (Al Mahdi).” (Musnad Ahmad)

Hadits ini menerangkan

Khabar baik tentang munculnya Al-Hujjah (Al Mahdi) apabila:

1.    Hijaz (Semenanjung Arab – Arab Saudi Moden) akan diperintah oleh seorang lelaki yang namanya adalah nama haiwan, ketika Kamu melihatnya dari jauh, kamu akan berfikir dia memiliki mata juling, dan jika kamu mendekatinya, kamu tidak melihat ada masalah di matanya. Ia adalah Raja Fahd
2.    Dia akan digantikan oleh saudara lelakinya, bernama Abdullah. Celakalah mengikutinya! Baginda mengulanginya tiga kali – Beri aku khabar baik tentang kematiannya, maka aku akan memberikan

Kenyataannya sekarang:

Saat ini Raja Abdullah di Arab Saudi telah wafat dan 3 putera mahkota berikutnya saling bergaduh karena memiliki perbezaan perbezaan prinsip dan akhlaq. 3 putera mahkota tersebut adalah

1.    Raja Salman,
2.    Thalal dan
3.    Mukrim.

Salman termasuk orang sholeh dan anti maksiat. Beliau hafidz Quran. Sedangkan Thalal memiliki ekonomi terkuat bahkan salah seorang terkaya di dunia. Namun ia ahli maksiat. Sementara itu Mukrim kesetiaannya lebih kepada Yahudi dan Amerika.

Sepeninggal Raja Abdullah, Arab Saudi saat ini dipimpin oleh Raja Salman. Raja Salman telah mengusir Thalal dari kerajaan sedangkan Raja Salman membiarkan Mukrim tetap dalam kerajaan namun telah mencabut hak beliau sebagai raja berikutnya.

Mari kita lihat hadits berikut, hadits sepertinya diriwayatkan dengan banyak jalan dengan matan yang membawa makna yang sama walaupun ada lafaz berbeza. Sebagai contoh

Hadits dari Tsauban katanya:


قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ ابْنُ خَلِيفَةٍ ، ثُمَّ لَا يَصِيرُ إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ ، ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّودُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ فَيَقْتُلُونَكُمْ قَتْلًا لَمْ يُقْتَلْهُ قَوْمٌ ، ثُمَّ ذَكَرَ شَيْئًا لَا أَحْفَظُهُ فَقَالَ : فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

"Rasulullah (S) bersabda:  Peselisihan (pergaduhan, Perperangan) yang terpendam antara kamu ada tiga (pihak) semuanya putera khalifah. Kemudian tidak berakhir pada seorang dari mereka. Kemudian muncul panji-panji hitam dari arah timur, mereka melakukan peperangan terhadap kalian, yang tak pernah dilakukan kaum sebelumnya. "Kemudian baginda menyebutkan sesuatu yang tidak aku ingat dan bersabda, "Bila kalian melihatnya, maka berbai’ah kepadanya walaupun dengan merangkak di atas salji. Sesungguhnya dialah Khalifah Allah Al-Mahdi. "

Dalam kitab Al-Zawaid, sanad ini sahih dan rijalnya (para perawi) tsiqah (terpecaya). Al-Hakim meriwayatkannya di dalam Al-Mustadrak dan berkata: "Sahih menurut peraturan Al-Syeikhain (Bukhari dan Muslim).


Lanjutan daripada hadits yang banyak ini menerangkan:


·       Hadits ini adalah tanda lanjutan selepas kematian Raja Abdullah. Ada khabar baik tentang munculnya Al-Hujjah (Al Mahdi).”

·       Ketika Peselisihan (pergaduhan, Perperangan) yang terpendam antara kalian (‘inda kanzi kum) ada tiga (pihak) semuanya putera khalifah.

·       lalu datang panji-panji hitam dari arah Khurasa atau dari arah timur,
·       maka datangilah atau berbai’ahlah padanya
·       walaupun dengan merangkak (salji).
·       kerana di sana ada Khalifah Allah Al-Mahdi.

Ada Sebuah Hadis yang diriwayatkan daripada Anas dan Abu Hurairah (ra huma).

"Akan ada orang-orang yang keluar dari arah Timur, lalu mereka mempersiapkan segala urusan untuk al-Mahdi, yakni pemerintahannya."

Kemunculannya dari Timur diperkuat oleh hadits-hadits panji-panji hitam, begitu juga akan disampaikan nanti penentuan tempat di Iraq diperkuat – ditambah dengan apa yang dikatakan Al-Suyuthi mengenainya- yang disebut oleh Imam Ali (as) dalam kitab-kitab Syiah dan Al-Sunnah, yang menyebutkan angka 313. Ia mengatakan, “Sesungguhnya orang pertama dari mereka adalah dari Basrah.” [1]


Diceritakan kepada kami Ibnu Wahab dari Ibnu Lahi’ah dari Harits bin Yazid; dia mendengar Ibnu Zarir Al-Ghafiqi, dia mendengar Ali berkata:

يخرج في اثني عشر ألفا إن قلوا أو خمسة عشر ألفا إن كثروا يسير الرعب بين يديه لا يلقاه عدو إلا هزمهم بإذن الله شعارهم أمت أمت لا يبالون في الله لومة لائم فيخرج إليهم سبع رايات من الشام فهزمهم ويملك فترجع إلى الناس محبتهم ونعمتهم وفاصتهم وبزارتهم فلا يكون بعدهم إلا الدجال قلنا وما الفاصة والبزارة قال يفيض الأمر حتى يتكلم الرجل بما شاء لا يخشى شيئا

“Akan muncul dua belas ribu orang jika mereka sedikit, atau lima belas ribu orang jika mereka ramai, menyebabkan ketakutan berhadapan dengan mereka. Tiada musuh yang bertemu kecuali mereka dikalahkan dengan izin Allah. Tanda-tanda mereka adalah “Amat! Amat!. Kerana Allah, mereka tidak pedulikan celaan orang yang mencela. Lalu keluar kepada mereka tujuh panji dari Syam lalu mengalahkan mereka dan berkuasa. Maka dikembalikan kepada umat kasih mereka, kenikmatan mereka dan sifat Fâshah” dan bazârah mereka. Maka tidak berlaku sesudah mereka melainkan (keluarnya) Dajjal.” Kami bertanya, “Apakah kata Fâshah dan bazârah?  Ia menjawab, “Dilimpahkan urusan sehingga seorang lelaki berbicara apa saja yang dia kehendaki tanpa rasa takut sedikitpun.” [2]

Sekarang mari kita lihat peristiwa yang berlaku yang mencerminkan ramalan atau berita dari Rasulullah itu sedang dan terus terjadi:

13 Jun 1982 - 1 Ogos 2005 

Hadits - Hijaz diperintah Raja Fahd [namanya adalah nama haiwan, ketika Kamu melihatnya dari jauh, kamu akan berfikir dia memiliki mata juling, dan jika kamu mendekatinya, kamu tidak melihat ada masalah di matanya]. Ia mangkat ( Ogos 2005) digantikan oleh saudara lelakinya bernama (Raja) Abdullah

Disember 1999 - 2002.

Hadits - Akan ada orang-orang yang keluar dari arah Timur, lalu mereka mempersiapkan segala urusan untuk al-Mahdi, yakni pemerintahannya – (ada banyak hadits mengenainya)

Hadits - Sesungguhnya orang pertama dari mereka adalah dari Basrah.”

Pada penghujung tahun ini Al-Syed Ahmad Al-Hassan yang berasal dari Basrah Iraq (Basrah terletak dari arah khurasan (timur)). Beliau adalah pemegang wasiat dan Utusan Imam Al Mahdi (as). Beliau telah memulakan dakwah Ilahiyah di Najaf dan diarahkan mengkritik hebat kebatilan yang berlaku di Pusat Pengajian Agama Najaf dan menuntut mereka melakukan pembaharuan dari segi keilmuan, amalan dan kewangan. Protes dan kritikan bagi menuntut pembaharuan ini berterusan sehingga ke tahun 2002,

2003/2004

Al-Syed Ahmad Al-Hassan mengadakan maseera (Perarakan) mengibarkan panji hitam (panji kebenaran) dari Najaf ke Kufah ber sama 72/73 para ansar.

9 April 2003

Saddam digulingkan

2007 – 2008

Kejadian Al Zarkah: Berlaku di kota suci Najaf semasa tentera Amerika yang bergandingan dengan tentera Iraq - menyangka Al-Syed Ahmad Al Hassan (as) (Mahdi Pertama) termasuk dalam kelompok penziarah-penziarah yang berjalan kaki ke makam Imam Hussein (as). Lalu mereka melakukan operasi pembunuhan ribuan manusia
                                                                                                          
Kejadian kedua: Beberapa hari selepas kejadian ini, satu briged tentera Iraq telah menjalankan operasi yang disokong dengan jet pengebom Amerika telah menyerang rumah kediaman Al-Syed Ahmad Al Hassan (as) secara mengejut di waktu subuh

2011

Dakwahnya tersebar ke seluruh dunia.

2015

Kini setelah Al-Sufiani mula masuk ke Iraq mareka baru mula belajar memikul senjata untuk mempertahankan Iraq.

23 Jan 2015

Kematian Raja Abdullah meninggalkan 3 waris anak Raja Abd Aziz

·       Raja Salman pengganti Raja Abdullah. Beliau hafidz Quran orang sholeh dan anti maksiat.
·       Thalal - memiliki ekonomi terkuat bahkan salah seorang terkaya di dunia telah lucutkan jawatan dari kerajaan dan dari hak pemangku mahkota
·       Mukrim -. lebih setia kepada Yahudi dan Amerika dan dilucutkan hak pemangku mahkota

Inilah 3 anak khalifah yang sedang bertelingkah di Arab Saudi Moden sekarang.

Sementara Al Mahdi yang dilahirkan di akhir zaman,  Al Mahdi yang dijanjikan dan Mahdi Pertama, Beliau adalah pemegang wasiat dan Utusan Imam Al Mahdi (as).

Al-Syed Ahmad Al- Hassan, Al-Yamani bin Ismail Bin Saleh Bin Hussein Bin Salman
Bin Muhammad Bin Hassan
Bin Ali, Bin Muhammad
Bin Ali, Bin Musa
Bin Ja'far Bin Muhammad
Bin Ali, Bin Hussein,
bin  Ali bin Abi Thalib
dan anak Fatimah binti Muhammad Rasulullah (S)
(Shalawat Allah 3alihim Ajma3in).
                              
Beliau adalah ahli bait Rasulullah. Dengan jalur yang diterangkan di atas.

Akhir sekali dibawakan kata-kata beliau Al-Syed Ahmad Al-Hasan sendiri:.   
                    
“Seruan dakwah ini disokong oleh banyak dalil-dalil, dan (A3uzhu billahi minal Ana) saya berlindung dengan Allah dari sifat Al-Ana (keakuan). Saya tidak mengatakan ikutilah saya secara membuta tuli, tetapi saya katakan bukalah mata anda dan bezakan dalil-dalil dan kenali pemilik yang haq (benar) supaya anda boleh menyelamatkan diri dari api neraka, seruan kebenaran tidak dapat berjalan seiring dengan panggilan batil seperti berlaku pada Rasulullah (S) apabila seruan Musailamah Al-Kazhzhab (pendusta) (La3nahu Allah) bersaing dengan baginda.”


--------------------------------
[1] Khutbah Al-Bayan Al-Masyhurah Al-Nisbah oleh Imam Ali dan disalin dari Kitab Al-Durr Al-Mundzam Fi Al-Sirr Al-A'dzam oleh Kamal Al-Din Abi Salim Mohammed Bin Thalhah Al-Syafei, salah seorang daripada ulama besar Al-Sunnah telah disahkan (tsabit) di sisi ulama Tharekat, dia meninggal dunia pada tahun 652 Hijrah, telah berkata dalam naskah khutbah berbunyi:

Telah disahkan (tsabit) di sisi ulama Tharekat dan para ulama Hakikat dengan salinan yang sahih dan pendedahan yang jelas bahawa Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib, (Karama Allah Wajhah) berdiri di atas mimbar di Kufah, dan dia berkhutbah dan katanya:

Bismi Allah Al-Rahman Al-Rahim Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi, dan Penciptanya mencipta keindahan yang terbentang, dan pemikul beban dengan gunung-gunungnya yang kukuh dan tanah luas saujana yang menusuk mata hingga membeliakkannya dan mengutus angin dan mengimbau hati... dan seterusnya.

Dan apa yang dikatakan padanya: Abu Salim Al-Nashibi 582-652 H = 1186-1254 M, Mohammed Bin Talha bin Mohammed bin Al-Hassan, Kamal Al-Din Al-Qurasyi Al-Nashibi Al-‘Aadawi Al-Syafei, Abu Salim: Menteri Penulisan kesusasteraan. dilahirkan di Al-‘Amriyah (dari kampung-kampung Nashibin) dan berpindah ke Naisabur, dan Ketua Kementerian di Damsyik, kemudian meninggalkanya dan zuhud. Beliau meninggal dunia di Haleb, Kitabnya (Al-‘Aqad Al-Farid Li Al-Malik Al-Sa’eid - Tha).. dan (Muthalib Al-Suul Fi Manaqib Aal Al-Rasul - Kha) dan (Al-Durr Al-Mundzam Fi Al-Sirr Al-A'dzam - Kha) dan (Miftah Al-Falah Fi Ai-I’tiqad 'Ahl Al-Shalah - Kha) Tasauf, dan (Nafais Al-‘Anashir Li Majalis Al-Malik Al-Nashir - Kha). Sumber: Al-A’lam – Khair Al-Din Al-Zarkali - Jilid 6 - halaman 175, berkata mengenainya Al-Imam Ibn Al-‘Amad Syahab Al-Din Al-Hanbali Al-Damsyiqi. Di dalamnya ada Al-Kamal Mohammed Bin Talha bin Mohammed bin Al-Hassan Kamal Al-Din Abu Salim Al-Qurasyi Al-Nashibi Al-‘Aadawi Al-Syafei Muftialiran. Kitab Al-‘Aqad Al-Farid salah satu terbitan berkedudukan dan ketua-ketua ulama yang diagungkan. Dilahirkan pada tahun 582 H, dan dia mendengar di Naisabur dari Al-Muid, dan syair Zainab. yang berilmu (memahami), Cemerlang di dalam Fiqh, Ushul dan perbandingan. Dihantar untuk raja-raja, dan ada kemajuan... dan disediakan Kitab Al-Durr Al-Mundzim pada nama Allah Al-A’dzam. Dan pada mulanya berpaling menghapuskan Nashibin, kemudian penaung guru Damsyik, kemudian oleh kerana zuhud pada dunia, ia berhaji, Maka tidak kembali tinggal di Damsyik sedikit pun, kemudian mengembara ke Haleb dan meninggal dunia pada bulan Rejab. - Syazharat Al-Zhahab Fi 'Akhbar Min Zhahab Jilid 7 halaman 447 tahun kejadian 652 H Terbitan Dar Ibn Kathir disahkan oleh Al-Arnawuuth.

[2] Fitan Al-Marwazi hadits No 1005 




                


Selasa, 13 Disember 2016

Ushul Ketiga Risalah:


Ushul Ketiga


Risalah:

Tujuan penciptaan adalah ibadah (pengabdian) dan makrifah (mengenal). Untuk mencapai tujuan ini hendaklah dengan ilmu dan makrifah tentang kehendak Pencipta atau risalah. Semua mukallaf (yang dibebani tugas) mengetahui supaya mencapai tujuan penciptaan, Tanpa ianya tidak akan meningkatkan kecepatan perjalanan pemiliknya, malah jauh tersasar daripada tujuan.

Risalah itu termasuklah aqidah dan syari’ah (kepercayaan dan Perundangan), dan kitab ini dikhususkan kepada aqidah-aqidah, dengan itu kita akan menghadkan kepada memperkatakan bahagian Risalah khusus mengenai aqidah, , dan kita hanya akan menyentuh dengan ringkas pada syari’ah.


Syari’ah (Perundangan),


Maklumat (perincian) mengenai Syari’ah (Perundangan) boleh sentiasa berubah di sepanjang perjalanan agama Ilahi, sama ada dalam penggantian para rasul, atau semasa pengutusan Rasul yang sama seperti Muhammad (S). Maka semasa perjalanan risalah agama bagi Al-Rasul Muhammad (S) terdapat penggantian bagi hokum-hukum yang diterima pakai oleh baginda (S) pada awal pengutusan baginda, contohnya tempuh 'iddah bagi isteri-isteri yang suaminya telah meninggal dunia seperti yang telah ditetapkan dalam Al-Quran:

Dia SWT telah berfirman:

﴿وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لِّأَزْوَاجِهِم مَّتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ ۚ فَإِنْ خَرَجْنَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِي مَا فَعَلْنَ فِي أَنفُسِهِنَّ مِن مَّعْرُوفٍ ۗ وَاللَّـهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴾﴿وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لِّأَزْوَاجِهِم مَّتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ ۚ فَإِنْ خَرَجْنَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِي مَا فَعَلْنَ فِي أَنفُسِهِنَّ مِن مَّعْرُوفٍ ۗ وَاللَّـهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴾

Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (iaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma'ruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [Al-Baqarah 2:240]

 Dan juga Dia SWT telah berfirman:

﴿وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا ۖ فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاللَّـهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ  ﴾

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis 'iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. [Al-Baqarah 2:234]

Al-Quran telah menerangkan masalah tersebut telah diubah hokumnya (syari’at) dengan jelas pada ayat-ayatnya; sebahagian darinya adalah firmanNya SWT:

   ﴿شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ ۚكَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ اللَّـهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ﴾﴿شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ ۚكَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ اللَّـهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ﴾

Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). [Al-Syura 42:13]

Atau hinggakan mungkin terdapat beberapa syari’at yang sebahagian matlamatnya untuk menguji manusia, dan menyingkirkan pokok persoalan mereka bagi mereka yang mencari kebenaran, maka pada ketika kiblat orang-orang beragama Hanif di Mekah adalah Ka'bah sementara kiblat Al-Rasul dan sholat baginda menghadap ke Bait Al-Maqdis, di mana ia adalah kiblat orang-orang Yahudi, dan apabila baginda pergi ke Madinah di mana kiblat orang-orang Yahudi adalah Bait Al-Maqdis, kita dapati bahawa Allah jadikan Ka’bah sebagai kiblat, sekiranya di Mekah kiblatnya arah ke Ka’bah adalah lebih mudah bagi orang-orang beragama Hanif beriman. Maka yang pastinya Muhammad (S) mengambil Kiblat orang-orang Yahudi adalah perkara yang berat pada orang-orang beragama Hanif di Mekah, kerana kiblat mereka adalah Ka’bah, dan juga Muhammad (S) mengambil Ka’bah Mekah sebagai kiblat adalah urusan yang berat bagi orang-orang Kristian dan Yahudi di Madinah, kerana kiblat mereka adalah Bait Al-Maqdis.

Allah berfirman:

﴿وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى لأناسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّـهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّـهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّـهَ بِلأناسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ﴾

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (peralihan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. [Al-Baqarah: 143]

Allah berfirman:
﴿نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّـهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ﴾

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahawa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang mereka kerjakan.[Al-Baqarah 2:144]

Allah berfirman:   

﴿وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَّا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ ۚ وَمَا أَنتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ ۚ وَمَا بَعْضُهُم بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ ۚ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم مِّن بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ إِنَّكَ إِذًا لَّمِنَ الظَّالِمِينَ﴾

Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang yang diberi Al Kitab, semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu -- kalau begitu -- termasuk golongan orang-orang yang zalim.[Al-Baqarah: 145]

Jadi Syari’at ilahi menerima penggantian dan perubahan, dan terdapat banyak sebab-sebab yang boleh membawa kepada penggantian dan perubahan; sebahagian darinya keadaan persekitaran masyarakat manusia di bumi ini.

Juga: sebahagian Syari’at yang yang diberi kuasa kuasa Al-Rasul, maka apa yang ditetapkan Al-Rasul dalam batas-batas yang ditetapkan oleh Allah SWT diredhai oleh Allah SWT, Allah SWT berfirman:

:﴿الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَىٰ نَفْسِهِ مِن قَبْلِ أَن تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ ۗ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ ﴾

Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya'qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: "(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar". ([Al-Imran: 93]

Jelas daripada ayat-ayat ini bahawa ada perkara yang dilarang oleh Nabi Allah Yakub (as).

Tiada yang berhak untuk menghadkan selain Allah dan sesiapa diberi mandat dari rasulNya untuk menetapkannya. Kerana Agama milik Allah SWT, dan Dialah yang menjaga agamanya, Tiada sesiapa pun yang berhak mencabar untuk menetapkan peraturan dengan melebihi dan mengganggu agama Allah, Kita telah membincangkan perkara ini terlebih dahulu dalam membahaskan ayat Ikmal Al-Din.

Adakah Akal itu ada baik dan buruknya?

Yang dimaksud dengan akal adalah kekuatan fikiran yang tersimpan pada setiap manusia, ia ada pada orang yang baik dan jahat, ada pada orang yang beriman dan yang kafir.

Akal adalah pengukur, oleh itu ia perlu tolok ukur atau pengukur piawai (standard) untuk membanding segala perkara dan yang membezakan baik dan buruknya, Maka jika adanya pengukur piawai (standard) untuk akal dalam sesuatu perkara, membolehkan akal untuk membezakan yang benar dengan yang salah dan yang baik dan yang buruk, dan jika tidak ada pengukur piawai (standard) maka akal tidak boleh membezakan yang baik dan yang buruk dan yang benar dengan yang salah, dan dengan itu kesalahan terletak pada membezakan yang benar dan yang salah pada manusia dalam banyak keadaan dan ia sering berlaku.

Orang-orang yang tidak boleh membezakan yang baik dan yang buruk atau yang benar dengan yang salah, mereka mempunyai salah satu daripada sebab-sebab berikut:

Mereka sama ada hilang alat pertimbangan, dan mereka ini adalah orang-orang yang tidak siuman dan akalnya tidak berfungsi, dan mereka ini dimaafkan.

Atau mereka hilang pengukur piawai (standard), dan merekalah orang-orang yang tidak mengambil berat untuk mendapatkan yang hak bagi mengenal pengukur piawai (standard) yang ada demi membezakan yang benar dengan yang salah, atau bahawa mereka mencari kebenaran dengan kejahilan dan pengetahuan yang lemah atau sembarangan, iaitu, mereka yang mencarinya dengan lidah mereka tanpa pembelajaran dan penyelidikan yang teliti dan pengetahuan sebenar untuk mengenal pengukur piawaian bagi mencerakin den menentukan yang benar dengan yang batil daripada mereka golongan yang sesat.

Atau mereka mempunyai pertimbangan dan mereka mengenal pengukur piawaian atau biasa dengannya, tetapi walaupun begitu mereka mengelakkan dari mencerakin untuk mengenal yang benar dengan yang batil dan yang baik dari yang buruk untuk tetap kekal dalam kebatilan yang ada kepentingan padanya dan yang disokongnya, dan mereka adalah golongan yang dimurkai. Tiada siapa yang boleh mengajaknya - Selain dari seruan-seruan ini untuk setiap manusia - ia mempunyai semua pengukur piawaian; kerana ini bermakna bahawa ia tahu hakikat-hakikat segala sesuatu , apa kesudahannya dan apa yang mereka tidak mengetahuinya pada semua keadaannya, dan ini tidak mungkin terjadi selain pada Allah SWT
.
Jadi, mengetahui yang baik dan yang buruk untuk semua perkara yang sama sekali tidak boleh dilakukan oleh akal, bahkan akal seperti diterangkan apabila ia mempunyai pengukur-pengukur piawaian ia boleh membezakan.

Atas sebab ini untuk mengatakan bahawa akal menggubal syari’at adalah kata-kata (qaul) yang batil, kerana ia sama dengan mengatakan bahawa Tuhan Yang Maha Mutlak itu berbilang-bilang, Maha Suci dan Maha Tinggi Dia (SWT) dari apa yang mereka sifatkan.


Aqidah Ilahiyah Sejak Adam sehingga berlakunya Al-Saah (kiamat):


Semua Aqidah Ilahiyah tidak boleh ditukar ganti atau diubah; kerana agama Allah satu dan juga diturunkan daripada Yang Maha Esa lagi Maha Suci. Ya, sebahagian keterangan boleh diubah, dan untuk menerangkan aqidah dan menjelaskannya mungkin akan lebih banyak dan lebih mendalam hasil tulisannya, dan pengetahuan memberi kesan ke atas aqidah dan amalannya boleh menjadi lebih besar (tinggi) bergantung kepada penerima, tetapi aqidah tidak ditukar ganti dan tidak berubah, Firman Allah Ta’ala:

:﴿إِنَّ هَـٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُون﴾

Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. [Al-Anbia 21: 92]

dan Dia berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖإِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ﴾

Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.[Al-Mukminun 23:51]

﴿وَإِنَّ هَـٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ  وَإِنَّ هَـٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ﴾

Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. [Al-Mukminun 23:51]
           
Semua umat para rasul adalah satu dan agama mereka adalah satu dan aqidah mereka adalah satu, maka mereka adalah lebih baik daripada dia kepada Allah SWT, dan agama mereka adalah penyerahan kepada Allah atau Islam:
﴿إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّـهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّـهِ فَإِنَّ اللَّـهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ﴾

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, kerana kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. [Aali Imran 3:19)

﴿إِنَّا أَنزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِن كِتَابِ اللَّـهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ ۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّـهُ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ﴾

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Kerana itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. [Al-Maidah 5:44])

﴿وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّـهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗوَاتَّخَذَ اللَّـهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا﴾

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. (Al-Nisa’ 4:125],

dan untuk memastikan selamat dalam kehidupan maka mestilah mencontohi mereka dan menyerah kepada mereka kerana ia datang kepada mereka dari Tuhan mereka mengenai aqidah, dan ia adalah kebenaran yang nyata dan tidak sama dengan kebatilan yang dihiasi.

Agama para Rasul, dan agama di sisi Allah adalah penyerahan kepada Allah. Dia SWT berfirman:

﴿وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ﴾

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. [Al-Baqarah 2:130]

﴿إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ﴾

Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam". [Al-Baqarah 2:131:

﴿وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّـهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".[Al-Baqarah 2:132]

Agama Ibrahim adalah agama yang benar dan ia tidak sama dengan kebodohan: [Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri]


dan agama Ibrahim adalah penyerahan kepada Allah iaitu Islam [Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam".].

Sesiapa yang menyerahkan kepada Allah adalah seorang Muslim dan agamanya adalah Islam, sama seperti dia mengikut Ibrahim (as) pada zamannya, atau Musa (as) pada zamannya atau Isa (as) pada zamannya [1], Dia SWT berfirman:

﴿أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّـهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ ۞ قُلْ آمَنَّا بِاللَّـهِ وَمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَالنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ ۞ وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.* Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri".. * Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [Aali Imran 3. 85-83]:

Adapun merujuk agama atau ushul aqidah-aqidahnya adalah penyerahan; kerana kita mengatakan bahawa adanya pencipta, tidak sekali-kali mencipta penciptaan yang terhad.
kemudian mereka dikirim ke dalam kegelapan, dan kemudian diserukan kepadanya kepada cahaya, maka sesiapa menyerah kepada Penciptanya, menjawab dan kembali kepada cahaya terselamat, dan sesiapa menderhaka akan binasa di mana ia adalah dalam kegelapan, tetapi dengan rahmat-Nya Yang Maha Suci Dia mengutus para penelamat yang menyeru orang-orang yang binasa dalam kegelapan kepada cahaya sebelum masa tamat:
﴿وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِن رَّبِّكَ﴾
Kalau tidaklah kerana suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu.

﴿وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّـهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَـٰكِنَّ اللَّـهَ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّـهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾

Sekiranya tidaklah kerana kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.[Al-Nur 24:21]

﴿وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلَّا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا ۚوَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِن رَّبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ﴾

Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah kerana suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu. (Yunus 10:19]

﴿وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ فَاخْتُلِفَ فِيهِ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِن رَّبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۚ وَإِنَّهُمْ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ مُرِيبٍ﴾

Dan sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa, lalu diperselisihkan tentang Kitab itu. Dan seandainya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Tuhanmu, niscaya telah ditetapkan hukuman di antara mereka. Dan sesungguhnya mereka dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap (Al Quran). (Hud 11:110]

﴿وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِن رَّبِّكَ لَكَانَ لِزَامًا وَأَجَلٌ مُّسَمًّى﴾

Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Allah yang telah terdahulu atau tidak ada ajal yang telah ditentukan, pasti (azab itu) menimpa mereka. [Taha: 20 129]

﴿وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ فَاخْتُلِفَ فِيهِ ۗ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِن رَّبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۚ وَإِنَّهُمْ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ مُرِيبٍ﴾

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab lalu diperselisihkan tentangnya. Kalau tidak ada keputusan yang telah terdahulu dari Rabb-mu, tentulah orang-orang itu sudah dibinasakan. Dan Sesungguhnya mereka terhadap Al Quran benar-benar dalam keragu-raguan yang membingungkan. [Fushshilat 41: 45.]

﴿وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِن رَّبِّكَ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى لَّقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ أُورِثُوا الْكِتَابَ مِن بَعْدِهِمْ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ مُرِيبٍ﴾

Dan mereka tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu. [Al-Syuraa 42:14]

Sesiapa yang tunduk menyerah kepada penyelamat yang diutus kepada mereka akan terselamat, dan sesiapa menderhaka kepada mereka akan binasa, ini adalah kisah penciptaan yang sempurna bagi mereka yang menyukainya. Inilah yang berlaku di Alam Al-Zhar, yang disebut di dalam Al-Quran [2] dan di dalam riwayat [3] Aali Muhammad (as), orang-orang yang paling awal menjawab– dengan mengiyakannya (bi bala – bahkan):
﴿أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ﴾
"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami) [Al-A’raf 7:172]; jadilah orang-orang di peringkat terkemudian sebagai orang-orang yang diseru dan diberi peringatan dan mereka diuji, Mereka menghadapi ujian dan mereka akan selamat:
﴿هَـٰذَا نَذِيرٌ مِّنَ النُّذُرِ الْأُولَىٰ﴾
Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang terdahulu. ([Najm 53: 56] dan dikembalikan semula kelebihan ini kepada manusia, kerana mereka semua telah melayakkan diri mereka ketika berada pada tahap yang sama sebagai orang-orang yang paling awal menjawab. Maka tidak boleh diungkit sekarang dengan mengatakan mengapa mereka lebih utama daripada kita, dan mengapa mereka sedemikian dan sebagainya. Bahkan pada hakikatnya, Allah tidak pernah melebihkan seseorang atas yang lain, Sesungguhnya semua penciptaan (orang) diberikan kepada mereka naluri (fitrah) yang sama yang melayakkan mereka semua untuk menjadi makhluk yang terbaik seperti orang-orang yang paling awal menjawab, tetapi mereka berlambat-lambat dan melihat diri mereka sendiri dan setiap seorang daripada mereka lalai terhadapNya Yang Maha Suci dan berpaling kepada dirinya sendiri dan keakuannya (egonya) dengan berkata, [Aku] menurut suatu kiraan, mereka tidak seperti orang-orang yang paling awal menjawab yang berkata [Huwa – Dia] dan berpaling dari Al-Ana (keakuan) pada setiap perkiraan mereka mendapat kedudukan tertinggi ini.

Dan di dalam kehidupan di dunia di mana kita hidup mengenai perkara ini:
﴿أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ﴾
"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami)
Ia telah berlaku, sedang berlaku dan akan berlaku, dan akan berterusan hingga akhir kehidupan ini. Maka ada yang mencipta kita dan menghantar kita ke Alam Kebendaan, Jasmani yang serba legap (kegelapan) ini, dan kemudian Dia memanggil kita sentiasa menyeru kita, dan memberikan kepada kita semua fitrah (naluri) yang sama dan kelayakan yang sama untuk mendengar dan kita pergi kepadaNya kepada cahaya dan kesucian, tetapi sedikit sekali yang mensyukuri nikmatNya dan menjawab (seruan)Nya dengan mengatakan [Dia] dan berpaling dari keakuan [Al-Ana], sangat sedikit bilangan mereka, seperti bintang-bintang dalam kegelapan langit. Mereka sangat sedikit, mereka adalah nabi-nabi, washi-washi dan Rasul-rasul (as):
﴿وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ﴾
Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. [Saba’ 34:13] Malangnya, ramai yang sibuk dari merayu kepadaNya SWT dan tidak bersyukur atas segala nikmat yang ditunjukkan dalam penciptaan mereka, Mereka melalaikanNya Yang Maha Suci sibuk dengan keakuan mereka dan tuhan-tuhan mereka dalam kehidupan di dunia ini, di sini ada campur tangan rahmat ilahi mengutus orang-orang yang mendengar rayuannya dan terselamat dengan menyahut dakwahnya untuk mengingatkan orang-orang yang lalai semoga mereka boleh berubah, tetapi malangnya, terlalu sedikit yang menyahut seruan mereka, Maka Dia Yang Maha Suci melebihkan mereka dengan mengirimkan ubat-ubatan (penawar) bersama mereka dan membolehkan ia diturunkan secara berperingkat-peringkat.

---------------------------------
[1] Pennyerahan tertakluk kepada keikhlasan, Bilamana keikhlasan seorang manusia itu tinggi pennyerahannya kepada Allah juga tinggi, dan dengan itu ia sesuai dipanggil agama Allah SWT pada setiap zaman dengan agama Islam dan bukan yang lain, tetapi ia adalah kehendak Allah supaya nama ini tidak dibawa melainkan Muhammad (S) untuk menjadi isyarat yang jelas kepada pennyerahan bagi seluruh penciptaan.
[2] Fieman Allah:
﴿وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَافِلِينَ [Al-A’raf 7:172]