Khamis, 18 Julai 2019

Hadis Syibli Lengkap (33 perkara tadabbur Ibadah Haji)


Hadis Syibli Lengkap (33 perkara tadabbur Ibadah Haji)
Disertai dengan teks Hadits Bahasa Arabnya

-        Kiriman Sdr Asrol Adam

Bekal buat yang berangkat Haji semoga menjadi Haji Yang Mabrur.

Seorang murid Imam Ali Zainal Abidin as putra Imam Husein as pimpinan pemuda ahli sorga yang bernama Asy- Syibli, saat  setelah ia selesai melaksanakan ibadah haji, pergi menemuinya untuk menyampaikan padanya apa-apa yang dialaminya selama itu. Maka terjadilah percakapan di antara keduanya.

“Wahai Syibli, bukankah anda telah selesai mengerjakan ibadah haji?. “Benar, wahai putra Rasulullah”. “Apakah anda telah berhenti di Miqat lalu menanggalkan semua pakaian yang terjahit yang terlarang bagi orang yang sedang mengerjakan haji dan kemudian mandi....?” “Ya, benar ....? “

(1). Adakah anda ketika berhenti di Miqat juga meneguhkan niat untuk berhenti dan menanggalkan semua pakaian maksiat dan, sebagai gantinya, mengenakan pakaian taat?” “Tidak ....”

(2). “Dan pada saat menanggalkan semua pakaian yang terlarang itu, adakah anda menanggalkan dari diri anda semua sifat riya', nifaq, serta segala yang diliputi syubhat....? “Tidak....”

(3). “Dan ketika mandi dan membersihkan diri sebelum memulai ihram, adakah anda berniat mandi dan membersihkan diri dari segala pelanggaran dan dosa-dosa?” “Tidak....” “Kalau begitu, anda tidak berhenti di Miqat, tidak menanggalkan pakaian yang terjahit dan tidak pula mandi membersihkan diri....!”

Kemudian Imam Ali Zainal Abidin a.s. melanjutkan:

(4). “Dan ketika mandi dan berihram serta mengucap niat untuk memasuki ibadah haji, adakah anda menetapkan niat untuk membersihkan diri dengan cahaya taubat yang tulus kepada Allah Swt? “Tidak....”

(5). “Dan pada saat niat berihram, adakah anda berniat mengharamkan atas diri anda segala yang diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla...? “Tidak....”

(6). “Dan ketika mulai mengikat diri dalam ibadah haji, adakah anda pada waktu yang sama, telah melepaskan juga segala ikatan selain bagi Allah?” “Tidak....” “Kalau begitu, anda tidak membersihkan diri, tidak berihram, dan tidak pula mengikat diri dalam ibadah Haji....!”

 Kemudian Imam Ali Zainal Abidin a.s. melanjutkan:“Bukankah anda telah memasuki Miqat, lalu shalat ihramdua rakaat, dan setelah itu mulai menyerukan tabliah...? Ya....benar. “

(7). Apakah ketika memasuki Miqat anda meniatkannya sebagai ziarah menuju keridoan Allah Swt?” “Tidak”.

(8). “Dan ketika shalat ihram dua rakaat adakah anda berniat mendekatkan diri, bertaqarrub kepada Allah dengan mengerjakan suatu amal yang paling utama di antara segala macam amal, yaitu shalat yang juga merupakan kebaikan yang utama di antara kebaikan-kebaikan yang dikerjakan oleh hamba-hamba Allah Swt?. “Tidak”.

(9). “Dan ketika bertalbiyah apakah anda berniat menjawab panggilan Allah dengan ikhlas suci dan bersih dalam ketaatan dan berpuasa bicara dan berpikir dari segala maksiat (perbuatan dosa)?” “Kalau begitu anda tidak memasuki Miqat, tidak bertalbiah, dan tidak shalat ihram dua rakaat!”

 Imam Ali Zainal Abidin a.s. bertanya lagi: “Apakah anda telah memasuki Masjidil Haram, dan memandang Ka'bah, serta shalat di sana? “Ya....benar”.

(10). “Ketika memasuki Masjidil Haram, adakah anda berniat mengharamkan atas diri anda, segala macam pergunjingan terhadap diri kaum muslimin...?” “Tidak”.

(11). “Dan ketika sampai di kota Mekah, adakah andamengukuhkan niat untuk menjadikan Allah Swt sebagai satu-satunya tujuan? “Tidak”. “Kalau begitu, anda tidak memasuki Masjidil Haram, tidak memandang Ka'bah, dan tidak pula bershalat di sana!

Dan beliau melanjutkan lagi: “Apakah anda telahbertawaf mengelilingi Ka'bah Baitullah, dan bersa’i sertatelah menyentuh rukun-rukunnya.”

(12). Dan ketika sa’i adakah anda berniat berlari kepada Allah dan Dia mengetahui darimu semua yang tersembunyi “Tidak”. “Kalau begitu anda tidak berthowaf, tidak menyentuh rukun-rukun Ka’bah dan tidak bersa’i.” (Dalam riwayat ini tidak disebutkan niat bertawaf dan menyentuh rukun-rukun Ka’bah. Dalam riwayat lain disebutkan

(13). saat bertawaf maka berniatlah seakan anda bertawaf bersama para malaikat di Arsynya Allah, dan

(14). saat menyentuh rukun yamani berniatlah untuk bertobat kepada Allah hingga tidak bermaksiat lagi kepada-Nya). Dan beliau melanjutkan pertanyaannya: “Dan apakah anda telah berjabatan dengan Hajar Aswad, dan berdiri bershalat di tempat Maqam Ibrahim? “Ya....! Mendengar jawaban itu, Imam Ali Zainal Abidin a.s. tiba-tiba berteriak, menangis dan meratap, dengan suara merawankan hati seperti hendak meninggalkan hidup ini, seraya berucap: “Oh,.. oh.....

(15). Barangsiapa berjabatan tangan dengan Hajar Aswad, seakan-akan ia berjabatan tangan dengan Allah Swt! Oleh karena itu, ingatlah baik-baik, wahai insan yang merana dan sengsara, janganlah sekali-kali berbuat sesuatu yang menyebabkan engkau kehilangan kemuliaan-agung yang telah kau capai, dan membatalkan kehormatan itu dengan pembangkangan-Nya, sebagaimana dilakukan oleh mereka yang bergelimang dalam dosa-dosa!”

Kemudian beliau berkata lagi:

(16). “Ketika berdiri di Maqam Ibrahim, adakah anda mengukuhkan niat untuk tetap berdiri di atas jalan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan jauh-jauh segala maksiat?”.

(17). “Dan ketika shalat dua rakaat di Maqam Ibrahimadakah anda berniat mengikuti jejak Nabi Ibrahim a.s.dalam shalat beliau, serta menentang segala bisikansetan?” “Tidak”. “Kalau begitu anda tidak berjabat tangandengan Hajar Aswad, tidak berdiri di Maqam Ibrahim, dan tidak pula shalat dua rakaat di dalamnya”. Dan beliau melanjutkan lagi: “Apakah anda telah mengagumi (memuliakan) sumur Zam-zam dan minum airnya?” “Ya”.

(18). “Apakah anda pada saat memandangnya, berniat menujukan pandangan anda kepada semua bentuk kepatuhan kepada Allah, serta memejamkan mata terhadap setiap maksiat kepada- Nya? “Tidak”. Kalau begitu anda tidak memandanginya dan tidak pula minum airnya!

Selanjutnya beliau bertanya lagi: “Apakah anda telahmengerjakan Sa'i antara Shafa dan Marwah, dan berjalan pulang pergi antara kedua bukit itu? “Ya...benar.”

(19). “Dan pada saat-saat itu (sa’i), anda menempatkan diri anda di antara harapan akan rahmat Allah dan ketakutan menghadapi azab-Nya?” “Tidak”. “Kalaubegitu, anda tidak mengerjakan Sa'i dan tidak berjalan pulang-pergi antara keduanya!”

Lalu beliau bertanya: “Anda telah pergi ke Mina?” “Ya”.

(20). “Ketika itu (ke Mina), adakah anda menguatkan niat akan berusaha sungguh-sungguh agar semua orang selalu merasa aman dari gangguan lidah, hati, serta tangan anda sendiri?” “Tidak”. “Kalau begitu, anda belum pergi ke Mina.

Dan anda telah berwuquf di Arafat? Mendaki Jabal Rahmah, mengunjungi Wadi Namirah serta menghadap kan doa-doa kepada Allah Swt di bukit-bukit As-Shakharat?” “Ya... benar”.

(21). “Ketika berdiri wuquf  di Arafat, adakah anda dalam kesempatan itu, benar- benar menghayati ma'rifat akan kebesaran Allah Swt serta mendalami pengetahuan tentang hakekat ilmu yang akan menghantarkanmu kepada-Nya? Dan apakah ketika itu anda menyadari benar-benar betapa Allah Yang Maha Mengetahui meliputi segala perbuatan, perasaan, serta kata-kata hati sanubari anda?” “Tidak”.

(22). “Dan ketika mendaki Jabal Rahmah, adakah anda sepenuhnya mendambakan rahmat Allah bagi setiap orang mukmin, serta mengharapkan bimbingan-Nya atas setiap orang muslim? “Tidak”.

(23) “Dan ketika berada di Wadi Namirah, adakah anda berketetapan hati untuk tidak mengamalkan sesuatu yang ma'ruf, sebelum anda mengamalkannya pada diri anda sendiri? Dan tidak melarang seseorang melakukan sesuatu, sebelum anda melarang diri sendiri?” “Tidak”. “Dan ketika berdiri di bukit-bukit di sana, adakah anda menyadarkan diri bahwa tempat itu menjadi saksi atas segala kepatuhan pada Allah, dan mencatatnya bersama-sama para Malaikat pencatat, atas perintah Allah, Tuhan sekalian lelangit?” “Tidak”. “Kalau begitu, anda tidak berwuquf di Arafat, tidak mendaki Jabal Rahmah, tidak mengenal Wadi Namirah, dan tak pula berdoa di tempat-tempat itu!”.

Dan Imam Ali Zainal Abidin a.s. bertanya lagi: “Apakah anda telah melewati kedua bukit al-Alamain, dan mengerjakan dua rakaat shalat sebelumnya, dan setelah itu meneruskan perjalanan ke Muzdalifah; memungut batu- batu di sana, kemudian melewati Masy'arul-Haram?” “Ya”.

(25). “Dan ketika shalat dua rakaat, adakah  anda meniatkannya sebagai shalat syukur, pada malam menjelang tanggal sepuluh Dzul-Hujjah, dengan mengharapkan tersingkirnya segala kesulitan serta datangnya segala kemudahan? “Tidak”.

(26). “Dan ketika lewat di antara kedua bukit itu dengansikap lurus tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri, adakah anda saat itu meneguhkan niat untuk tidak bergeser dari Agama Islam, agama yang haq, baik ke arah kanan atau pun kiri; tidak dengan hatimu, tidak pula dengan lidahmu, atau pun dengan semua gerak- gerik anggota tubuhmu yang lain? “Tidak”.

(27). “Dan ketika menuju Muzdalifah, dan memungut batu-batu di sana, adakah anda berniat membuang jauh-jauh dari dirimu segala macam maksiat dan kejahilan terhadap Allah Swt, dan sekaligus menguatkan hatimu untuk tetap mengejar ilmu dan amal yang diridoi Allah?” “Tidak”.

(28). “Dan ketika melewati al- Masy'arul-Haram, adakah anda mengisyaratkan kepada diri anda sendiri, agar bersyiar seperti orang-orang yang penuh takwa dan takut kepada Allah Azza Wajalla?” “Tidak”. “Kalau begitu, anda tidak melewati 'Alamain, tidak shalat dua rakaat tidak berjalan ke Muzdalifah, tidak memungut batu-batu di sana, dan tidak pula lewat di Masy'arul Haram”.

 Dan beliau melanjutkan: “Wahai Syibli, apakah andatelah mencapai Mina, melempar Jumroh, mencukur rambut, menyembelih kurban, bershalat di masjid Khaif; kemudian kembali ke Mekah dan mengerjakan tawafIfadhah?” “Ya....benar”.

(29). ”Ketika sampai di Mina, dan melempar Jumroh, adakah anda berketetapan hati bahwa anda kini telah sampai ke tujuan, dan bahwa Tuhanmu telah memenuhi untukmu segala hajatmu?” “Tidak”. “Dan pada saat melempar Jumroh, adakah anda meniatkan dalam hati, bahwa dengan itu anda melempar musuh bebuyutanmu, yaitu Iblis, serta memeranginya dengan telah disempurnakannya ibadah hajimu yang amat mulia itu?” “Tidak”.

(30). “Dan pada saat mencukur rambut, adakah andaberketetapan hati bahwa dengan itu anda telah mencukur dari dirimu segala kenistaan; dan bahwa anda telah keluar dari segala dosa-dosa seperti ketika baru lahir dari perut ibumu?” “Tidak”.

(31). “Dan ketika shalat di masjid Khaif, adakah anda berniat untuk tidak memiliki perasaan khauf (takut), kecuali kepada Allah Swt, serta dosa-dosamu sendiri? Dan bahwa anda tiada mengharapkan sesuatu kecualirahmat Allah?” “Tidak”.

(32).“Dan pada saat memotong hewan kurban, adakah anda berniat memotong urat ketamakan dan kerakusan, dan berpegang pada sifat wara' yang sesungguhnya? Dan bahwa anda mengikuti jejak Nabi Ibrahim a.s. yang rela memotong leher putra kecintaannya, buah hatinya dan penyegar jiwanya, agar menjadi teladan bagi manusia sesudahnya, semata-mata demi mengikuti perintah Allah Swt?” “Tidak”.

(33).“Dan ketika kembali ke Mekah, dan mengerjakan Tawaf Ifadhah, adakah anda meniatkan berifadhah dari pusat rahmat Allah, kembali kepada kepatuhan terhadap-Nya, berpegang teguh pada kecintaan kepada-Nya, menunaikan segala perintah-Nya, serta bertaqarrub selalu kepada-Nya?” “Tidak”.

“Kalau begitu, anda tidak mencapai Mina, tidak melempar Jumroh, tidak mencukur rambut, tidak menyembelih kurban, tidak mengerjakan manasik, tidak bershalat di masjid Khaif, tidak bertawaf thawaful Ifadhah, dan tidak pula mendekat kepada Tuhanmu! Kembalilah......kembalilah, sebab anda sesungguhnyabelum menunaikan haji anda!”.

Mendengar itu Syibli menangis tersedu-sedu, meratapi dan menyesali segala sesuatu yang telah dilakukannya dalam masa hajinya. Dan semenjak saat itu ia giat memperdalam ilmunya, sehingga pada tahun berikutnya ia  kembali mengerjakan haji dengan ma'rifat (ilmu yang lebih sempurna) serta keyakinan penuh. (Mustadrok Wasail: juz 10, hal. 167 – 172.)

يقول السيد عبد الله الجزائري في (التحف السنية: 184 - 185):
(وجدتُ في عدة مواضع، أوثقها بخط بعض المشايخ الذين عاصرناهم مرسلا، أنه لما رجع مولانا زين العابدين ( ع ) من الحج استقبله الشبلي، فقال له (ع): حججت يا شبلي ؟ قال: نعم، يا بن رسول الله.
(أسرار الميقات):
فقال له (ع): أنزلتَ الميقات وتجردت عن مخيط الثياب و اغتسلت؟
قال: نعم.
قال (ع): فحين نزلتَ الميقات نويتَ أنك خلعت ثوب المعصية ولبست ثوب الطاعة؟ قال: لا.
قال (ع): فحين تجردتَ عن مخيط ثيابك نويتَ أنك تجردت من الرياء والنفاق والدخول في الشبهات؟ قال: لا.
قال (ع): فحين اغتسلتَ نويت أنك اغتسلت من الخطايا والذنوب؟
قال:لا.
قال (ع): فما نزلت الميقات، ولا تجردت عن مخيط الثياب، ولا اغتسلت.
ثمّ قال (ع): تنظفتَ، وأحرمت، وعقدت الحج؟ قال: نعم.
قال (ع): فحين تنظفت وأحرمت وعقدت الحج نويتَ أنك تنظفت بنورة التوبة الخالصة لله تعالى؟ قال: لا.
قال (ع): فحين أحرمت نويت أنك حرّمت على نفسك كلَّ مُحرم حرمه الله عز وجل؟ قال: لا.
قال (ع): فحين عقدت الحج نويت أنّك قد حللت كلَّ عَقد لغير الله عز وجل؟ قال: لا.
قال له (ع): ما تنظفت، ولا أحرمت، ولا عقدت الحج.
قال له (ع): أدخلت الميقات وصليت ركعتي الاحرام ولبيت؟ قال: نعم.
قال (ع): فحين دخلت الميقات نويت أنك دخلت بنية الزيارة؟ قال: لا.
قال (ع): فحين صليت ركعتين نويت أنك تقربت إلى الله بخير الأعمال من الصلاة، وأكبر حسنات العباد؟ قال: لا.
قال (ع): فحين لبيت نويت أنك نطقت لله سبحانه بكل طاعة، وصمت عن كل معصية؟ قال: لا.
قال له (ع): ما دخلت الميقات، ولا صليت، ولا لبيت.
(أسرار الحرم):
ثمّ قال له (ع): أدخلت الحرم، ورأيت الكعبة، وصليت؟ قال: نعم.
قال (ع): فحين دخلت الحرم نويتَ أنك حرّمت على نفسك كلَّ غيبة تستغيبها المسلمين من أهل ملة الاسلام؟ قال: لا.
قال (ع): فحين وصلت مكة نويت بقلبك أنّك قصدت الله سبحانه؟
قال: لا.
قال (ع): فما دخلت الحرم، ولا رأيت الكعبة، ولا صليت.
ثمّ قال (ع): طِفت بالبيت، ومسست الأركان، وسعيت؟ قال: نعم.
قال (ع): فحين سعيت نويت أنك هربت إلى الله، وعرف ذلك منك علامُ الغيوب؟ قال: لا.
قال (ع): فما طفت بالبيت، ولا مسست الأركان، ولا سعيت.
ثمّ قال له (ع): صافحت الحجر، ووقفت بمقام إبراهيم (ع)، و صليت به ركعتين؟ قال: نعم.
فصاح ( ع ) صيحة كاد يفارق الدنيا، ثمّ قال (ع): آه آه، ثمّ قال (ع): من صافح الحجر الأسود فقد صافح الله سبحانه.
فانظر يا مسكين لا تضيّع أجر ما عظُم حرمته وتنقض المصافحة بالمخالفة، و قبضِ الحرام، ونظر أهل الآثام.
ثمّ قال (ع): نويت حين وقفت عند مقام إبراهيم أنك وقفت على كل طاعة، وتخلفت عن كل معصية؟ قال: لا.
قال (ع): فحين صليت فيه ركعتين نويت أنك اتصلت بصلاة إبراهيم، وأرغمت أنف الشيطان (لعنه الله)؟ قال: لا.
قال له (ع): فما صافحت الحجر الأسود، ولا وقفت عند المقام، ولا صليت فيه ركعتين.
(أسرار زمزم، والسعي):
ثم قال له (ع): أشرفت على بئر زمزم، وشربت من مائها؟ قال: نعم.
قال (ع): أنويت أنك أشرفت على الطاعة، وغضضت طرفك عن المعصية؟ قال: لا.
قال (ع): فما أشرفت عليها، ولا شربت من مائها.
ثم قال له (ع): أسعيت بين الصفا والمروة، ومشيت، وترددت بينهما؟
قال: نعم.
قال (ع): نويت أنك بين الرجاء والخوف؟ قال: لا.
قال (ع): فما سعيت، ولا مشيت، ولا ترددت بين الصفا والمروة.
(أسرار الخروج إلى منى والوقوف بعرفة):
ثم قال (ع): أخرجت إلى منى؟ قال: نعم.
قال (ع): نويت أنك أمنت الناس من لسانك وقلبك ويدك؟ قال: لا.
قال (ع): فما خرجت إلى منى.
ثم قال (ع): أوقفت الوقفة بعرفة، وطلعت جبل الرحمة، وعرفت وادي عرنة، ودعوت الله سبحانه عند الميل والجمرات؟ قال: نعم.
قال (ع): هل عرفت بموقفك بعرفة معرفةَ الله سبحانه أمرَ المعارف والعلوم؟ وعرفت قبضَ الله على صحيفتك، واطلاعه على سريرتك وقلبك؟ قال: لا.
قال (ع): فنويت بطلوعك جبل الرحمة أنّ الله يرحم كلَّ مؤمن ومؤمنة، ويتوالى كلَّ مسلم ومسلمة؟ قال: لا.
قال (ع): فنويت عند نمرة أنك لا تأمر حتى تأتمر، ولا تزجر حتى تنزجر؟ قال: لا.
قال (ع): فعندما وقفت عند العلم والنمرات نويت أنّها شاهدةٌ لك على الطاعات، حافظة لك مع الحفظة بأمر رب السماوات؟ قال: لا.
قال (ع): فما وقفت بعرفة، ولا طلعت جبل الرحمة، و لا عرفت نمرة، ولا دعوت، ولا وقفت عند النمرات.
(أسرار المشعر الحرام):
ثم قال (ع): مررت بين العلمين، وصليت قبل مرورك ركعتين، ومشيت بمزدلفة، ولقطت فيها الحصى، ومررت بالمشعر الحرام؟ قال: نعم.
قال (ع): فحين صليت ركعتين، نويت أنها صلاة الشكر في ليلة عشر تنفي كل عسر وتيسر كل يسر؟ قال: لا.
قال (ع): فعندما مشيت بين العلمين، ولم تعدل عنهما يمينا وشمالا، نويت أن لا تعدل عن دين الحق يمينا وشمالا، لا بقلبك ولا بلسانك ولا بجوارحك؟ قال: لا.
قال (ع): فعندما مشيت بمزدلفة، ولقطت منها الحصى، نويت أنك رفعت عنك كلَّ معصية وجهل، وثبت كلَّ علم وعمل. قال: لا.
قال (ع): فعندما مررت بالمشعر الحرام، نويت أنك أشعرت قلبك شعار أهل التقوى والخوف لله عز وجل؟ قال: لا.
قال (ع): فما مررت بالعلمين، ولا صليت ركعتين، ولا مشيت بالمزدلفة، ولا رفعت منها الحصى، ولا مررت بالمشعر الحرام.
(أسرار رمي الجمرات، والحلق، والهدي، والرجوع إلى مكة):
ثم قال له (ع): وصلت منى ورميت الجمرة، وحلقت رأسك، وذبحت هديك، وصليت في مسجد الخيف، ورجعت إلى مكة، وطفت طواف الإفاضة؟ قال: نعم.
قال (ع): فنويت عندما وصلت منى ورميت الجمار أنك بلغت إلى مطلبك، وقد قضى لك ربُّك كلَّ حاجتك؟ قال: لا.
قال (ع): فعندما رميت الجمار نويت أنك رميت عدوك إبليس، وغضبته بتمام حجك النفيس؟ قال: لا.
قال (ع): فعندما حلقت رأسك نويت أنك تطهرت من الأدناس، ومن تبعة بني آدم، وخرجت من الذنوب كما ولدتك أمك؟ قال: لا.
قال (ع): فعندما صليت في مسجد الخيف نويت أنك لا تخاف إلا الله عز وجل وذنبك، ولا ترجو إلا رحمة الله تعالى؟ قال: لا.
قال (ع): فعندما ذبحت هديك نويت أنك ذبحت حنجرة الطمع بما تمسكت به من حقيقة الورع، وأنك اتبعت سنة إبراهيم بذبح ولده وثمرة فؤاده وريحان قلبه، وصارت سنة لمن بعده وقربة إلى الله تعالى لمن خلفه؟ قال: لا.
قال (ع): فعندما رجعت إلى مكة وطفت طواف الإفاضة نويت أنك أفضت من رحمة الله تعالى، ورجعت إلى طاعته، وتمسكت بوده، وأديت فرائضه، وتقربت إلى الله تعالى؟ قال: لا.
قال له زين العابدين (ع): فما وصلت منى، ولا رميت الجمار، ولا حلقت رأسك، ولا ذبحت نسكك، ولا صليت في مسجد الخيف، ولا طفت طواف الإفاضة، ارجع فإنك لم تحج!
فطفق الشبلي يبكي على ما فرطه في حجه، وما زال يتعلم حتى حج من قابل بمعرفة ويقين).

Ahad, 14 Julai 2019

Soalan 384: Soalan penjelasan - mengenai peribadi Al-Yamani


Soalan 384: Soalan penjelasan - mengenai peribadi Al-Yamani

بسم الله الرحمن الرحيم،
والصلاة والسلام على محمد الخاتم وآله الأطهار.
.

Salah seorang dari orang-orang mukmin menunjukkan kepada saya laman web anda dan mengarahkan saya ke acara hebat ini dengan memberi saya keterangan bercetak mengenai Al-Syed Ahmad Al-Hassan dan yang merupakan Al-Yamani yang dijanjikan. Saya mendapat banyak manfaat dari keterangan dan laman web ini, Semoga Allah memberi ganjaran kepadanya dengan kebaikan.
                     
Sehak itu, saya dengan memuji Allah telah meneliti dakwah Imam Mahdi, yang jiwa-jiwa kita menjadi persembahan tanah tebusan. Terdapat beberapa masalah yang tidak jelas yang tidak menyenangkan hati saya terhadap penjelasan dari sebahagian syeikh-syeikh dan ulama. Masih banyak pertanyaan mengenai  tanda-tanda (alamat) pada saya termasuk peribadi Al-Yamani.

Selepas melihat keterangan dan melayari laman web, banyak dari kebimbagan dan kekeliruan saya yang hilang dan meletakkan banyak titik-titik kebenaran terhadap penyimpangan dari pencarian dan penelitian.

Masih ada lagi sedikit penyelidikan, kerana keterangan itu tidak termasuk perkiraan persoalan pribadi Al-Yamani, tetapi juga banyak kesan sampingan lain, seperti hubungan yang jauh atau dekat di hauzah ilmiah, para marajik terkemuka, dan terutama Al-Syed Al-Sistani. Apakah dia benar-benar tidak mempercayai Imam al-Mahdi dan keghaibannya? Saya harap saya dapat lebih banyak maklumat mengenai hauzah ilmiah dan para marajik dan mengenai Al-Syed Al-Sistani.

Soalan lain saya ialah: Di manakah Al-Syed Ahmad Al-Hassan sekarang, apa yang dia lakukan, dan apabila ia tampak di tempat keraian untuk memimpin orang ramai ini mencintai Imam, dan mengapa dia tidak mempunyai gambar untuk mengenalinya?

Sila hantar kepada saya semua jawapan ke alamat surat saya. terima kasih atas kerjasama anda dan saya mendoakan anda semoga berjaya dan mencapai tujuan.

Pengirim: Abdel Sattar / Sepanyol – Madrid

Jawapan:

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، وصلى الله على محمد وآله الأئمة والمهديين وسلم تسليماً.

Jawab pada titik-titik:

Oleh kerana anda berhasil mendapat ilmu dan menjelaskan kepada anda banyak titik-titik perkara yang benar, tidak kurang pula anda kini dapat ketenangan menghadap kebenaran,, dan kemudian siapa yang memenuhi dan menghadap kebenaran dan dengan itu menentangnya adalah kebatilan.

Dakwah Al-Yamaniyah tidak bermusuhan dengan mana-mana peribadi, tetapi permusuhannya dengan kebatilan (kepalsuan) dan yang mendakwannya.

Bagi Al-Sistani sendiri, dia diseru untuk beriman dengan Dakwah Al-Yamaniyah seperti orang lain.

Al-Syed Ahmad Al-Hassan (as) wujud, dan berada di antara orang yang melihat dan mendengar daripadanya, dan apa yang dia lakukan? Dia (as) tahu tentang tangging jawabnya.

Mengadakan diri di tempat keraian untuk memimpin orang ramai selepas selesai mencapai bilangan (313) dan sepuluh ribu.

Al-Syed Ahmad Al-Hassan (as) tidak datang untuk bergambar, kerana dia menyeru manusia kepada Allah SWT dan kepada Al-Tauhid yang sebenar dan bukan kepada dirinya sendiri, dan dia tidak datang untuk dilihat manusia dan dijadikan untuknya tabir di antara mereka dan Allah SWT.

Saudaraku yang mulia diriwayatkan dari Ahl Al-Bait (as) yang bermaksud: (Kenal kebenaran adalah mengenal ahlinya) dan gambar bukan sumber mengenal kebenaran dan ia tidak berguna dalam mengenal ahli kebenaran.

                   
Al-Lajnah Al-3ilmiyah (Lujnah Ilmu)
Ansar Al-Imam Al-Mahdi (Semoga Allah menempatkannya di bumi.)

Profesor Zaki Al-Ansari
15 / Ramadhan / 1430 H


✡✡✡✡✡


Sabtu, 13 Julai 2019

Soalan 383: Orang-orang mukmin melihat Allah pada Hari Kiamat,


Soalan 383: Orang-orang mukmin melihat Allah pada Hari Kiamat,

Adakah orang-orang mukmin melihat Allah pada hari kiamat dengan tanpa cara bagaimana, tidak ada batas, dan tidak ada arah???

Pengirim: Muhammad – Mesir

Jawaoan:

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، وصلى الله على محمد وآل محمد الأئمة والمهديين وسلم تسليماً.

Saudara, Al-Syed Ahmad Al-Hassan menjawab dalam Kitab Mutasyabihat mengenai makna pengelihatan ini dan saya akan mengajukan soalan dan jawapannya di sini:

Soalan: Apakah maksud ayat-ayat di dalam Surah Al-Qiamah:

﴿وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ * إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ﴾

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. * Kepada Tuhannyalah mereka melihat. [189].

Jawapannya: Makna nadzirah ialah mereka melihat kepada Muhammad (S), dia adalah Al-Murabbi bagi wajah-wajah yang baik dan berseri-seri (nadzirah) ini.

Berkata Al-Shadiq (as) kepada Hasyim Al-Shaidhawi : (Ya Hasyim, bapa ku bercakap kepadaku dan dia lebih baik dariku, dari Rasulullah (S) bersabda: Mana-mana lelaki dari yang miskin dari Syiah kami dan tidaklah sedemikian melainkan tab3ah. Aku berkata: Semoga aku jadi tebusan Tuan, apakah dia Al-Tab3ah? Beliau berkata: Dengan Lima puluh satu (51) rakaat dan berpuasa tiga hari sebulan, apabila hari kiamat mereka keluar dari kubur mereka dengan wajah mereka seperti bulan di malam bulan penuh. maka berkata seorang lelaki dari mereka:memberikan soalan, Lalu mereka berkata: Mintalah Tuhanku untuk melihat wajah Muhammad (S) katanya: Dengan izin Allah Azza wa Jalla kepada penghuni Syurga untuk menziarahi Muhammad (S).

Beliau berkata, akan disediajan sebuah mimbar kepada Rasulullah (S) terdapat permaidani dari permaidani syurga yang akan mempunyai seribu Mirqat (anak tangga), di antara anak tangga ke anak tangga yang lain ada dorongan kuda, maka Muhammad (S) dan Amirul Mukminin (as) akan menaikinya, Katanya lagi: maka mimbar itu diapit oleh Syiah Aali Muhammad (as), maka Allah melihat kepada mereka dan ia adalah firmanNya SWT:

﴿وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ * إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ﴾

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. * Kepada Tuhannyalah mereka melihat.


Beliau berkata: disinarkan cahaya ke atas mereka sehingga apabila salah seorang daripada mereka kembali tidak mengira bidadari-bidadari memenuhi pengelihatan, dan kemudian berkata: Abu Abdullah (as): Wahai Hashim ini adalah untuk mereka yang beramal dengan amalan mereka.) Berakhir.

Al-Lajnah Al-3ilmiyah (Lujnah Ilmu)
Ansar Al-Imam Al-Mahdi (Semoga Allah menempatkannya di bumi.)

Profesor Razak Al-Ansari

Sya3ban Al-Khair / 1430 H


✡✡✡✡✡

---------------
[189[Al-Qiamah 75: 22 - 23.


Soalan / 382: para ulama dusta dan tidak mahukan kebenaran


Soalan / 382: Para ulama dusta dan tidak mahukan kebenaran

السلام عليكم
Saudara-saudaraku yang tersayang .. Saya harap anda dapat membantu saya dalam mencari kebenaran, adakah benar bahawa para ulama Syiah semuanya dusta dan mereka yang tidak mahukan kebenaran muncul supaya tidak mengganggu takhta mereka? Saya bertanya kepada anda bahawa seseorang cuba meyakinkan saya untuk dalwah Al-Syed Ahmad Al-Hassan. Saya amat berterima kasih kepada anda, salam dari saya.

Dihantar: Pencari Hidayah

Jawab:

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، وصلى الله على محمد وآل محمد الأئمة والمهديين وسلم تسليماً.


Saudari yang dumuliakam: tidakkah anda tahu tentang ulama akhir zaman , seperti seperti yang khabarkan oleh Muhammad dan Aali Muhammad (as), Ada banyak riwayat yang telah menerangkan keadaan mereka yang akan disebutkan kepada anda sebahagian daripadanya, tetapi sebelum itu anda perlu tahu bahawa prinsip, yang merupakan tanda yang membezakan bagi Syiah Ahl Al-Bayt adalah iman mereka dalam perlantikan ilahi untuk pemerintah. Iaitu mereka beriman bahawa pemerintah tidak dikantik oleh manusia, tetapi Allah Taala yang melantiknya, dan sekarang anda melihat bagaimana fuqaha Syiah telah meninggalkan prinsip ini di belakang mereka dan mengampu Amerika dan mereka masuk bersama dalam permainan demokrasi, yang bermaksud bahawa pemerintah dipilih oleh manusia. Dan anda, Insyaallah, tahu bahawa pelanggaran agama Allah dan syari’ahNya, khususnya masalah penentuan Imamah dan perlantikan pemerintah adalah ketetapan-ketetapan yang tidak boleh dilanggar dengan alasan bahawa keadaan memerlukannya, Imam Al-Hussein (as) menunjukkan dirinya yang suci sendiri, diri-diri keluarganya, dan para sahabatnya adalah manusia terbaik untuk yang berjuang dan berkorban atas prinsip ini, Dia tidak tedha Yazid (laknahu Allah) sebagai pemerintah yang menegaskan bahawa pemerintah hanya dilantik oleh Allah sahaja..

Riwayat-riwayat:

Dari Huzhaifah bin al-Yaman dan Jabir Al-Ansari, dari Rasulullah (S), bahawa baginda bersabda: (Celakalah, celakalah bagi umatku dari Syura Kubra dan sughra (syura besar dan syura kecil!)” Nabi ditanya tentang keduanya, lalu baginda menjawab, “Syura besar itu berlaku di negeriku (yakni Madinah) setelah kewafatanku untuk mengambil alih kekhalifahan saudaraku (Ali as) dan merampas hak putriku (Fatimah as). Sedangkan syura kecil itu berlaku di Zaura` pada masa ghaib kubra (Imam Mahdi (as)) untuk mengubah sunnahku dan menggantikan hukum-hakamku.” [178]

Dan syura sughra maknanya adalah pihanraya yang berlaku di Iraq, Zaura` adalah dari nama-nama Baghdad.

عن رسول الله (ص) في حديث المعراج، قال: (قلت: إلهي فمتى يكون ذلك - أي الفرج - فأوحى إليّ (عز وجل): يكون ذلك إذا رُفع العلم، وظهر الجهل، وكثر القراء، وقل العمل، وكثر الفتك، وقل الفقهاء الهادون، وكثر فقهاء الضلالة الخونة)

Dari Rasulullah (S), dalam hadits Al-Mikraj baginda bersabda:: " Ilahi, bilakah berlakunya demikian – iaitu Al-Faraj (kelapamgam) – Lalu Dia (AWJ) mewahyukan kepadaku: Apabila ilmu diangkat, kejahilan tampak jelas, ramai yang membaca dan sedikit yang beramal, banyak kemusnahan; sedikit ulama yang memberi bimbingan dan ramai ulama yang sesat yang berkhianat) [179].
                                           
Dan dari Rasulullah (S): (Akan datang satu masa (zaman) apabila umatku tiada apa yang tinggal dari Al-Quran selain tulisannya dan tiada apa yang akan tinggal dari Islam selain namanya. mereka dinamakan dengannya dan mereka adalah orang-orang yang paling jauh daripadanya. masjid mereka akan dihias indah tetapi jauh dari petunjuk (hidayah). Ulama zaman mereka adalah ulama yang paling buruk di bawah naungan langit; Fitnah akan datang daripada mereka dan kepada mereka (fitnah itu) dikembalikan.) [180].

Dalam Bisyarat Al-Islam hal 246: (... musuh-musuhnya bertaqlid kepada fuqaha ahli Al-Ijtihad, kerana pendapatnya tentang hukum adalah bertentangan dengan apa yang dikeluarkan oleh para imam).

Dan dari Abu Ja’far (as): (Ketika Al-Qaim (as) bangkit, ia akan berangkat ke Kufah dan orang-orang akan keluar dari kota itu seramai sepuluh ribu orang yang menyeru Al-Batriyah (pemotongan), Mereka berkata kepadanya: kembalilah dari mana engkau datang. Kami tidak memerlukan Anak-anak Fatimah,) dan dilampirkan Al-Kurani pada hadits ini dengan mengatakan: (Nampaknya mereka pada Al-Batriyah itu adalah orang Syiah) 181].

Dan dari Rasulullah (S), dalam hadits Al-Mikraj (Aku bertanya:Ilahi, bilakah berlakunya demikian – iaitu Al-Faraj (kelapamgam) – Lalu Dia (AWJ) mewahyukan kepadaku: Berlakunya demikian apabila ilmu diangkat, kejahilan tampak jelas, ramai yang membaca dan sedikit yang beramal, banyak kemusnahan; sedikit ulama yang memberi bimbingan dan ramai ulama yang sesat yang berkhianat.) [182]

Ini adalah sebahagian hadits mengenai para ulama akhir zaman, dan terdapat banyak lagi di dalam kitab-kitab hadits dan kitab-kitab Ansar. Sekiranya anda merujuk kepada kitab-kitab persaudaraan ansar, anda akan dapati banyak dalil yang menunjukkan bahawa dakwah Al-Syed Ahmad Al-Hassan (as) dakwah kebenaran. Mudah-mudahan anda akan tahu bahawa zaman kita adalah kezuhuran seperti yang dibuktikan oleh banyak tanda-tanda, dan bahawa pada zaman ini perlu zahir Al-Yamani yang membuka jalan (mempersiap) asas bagi Imam, dan Al-Yamani kita mengenalinya melalui perkara-perkara yang disebut oleh Ahl Al-Bayt (as).

Abu Abdillah (as) telah ditanya: Dengan apa kita mengenal Al-Imam? Beliau berkata: (Dengan wasiat yang jelas dan dengan keutamaan (kelebihan), Bahawa imam tidak boleh dicabar pada mulut atau perut atau Faraj dengan mengatakan: dia pendusta dan makan harta manusia dan apa yang serupa dengannya)  [183].

وعن أحمد بن أبي نصر، قال: (قلت لأبي الحسن الرضا (ع): إذا مات الإمام بم يُعرف الذي بعده ؟ فقال: للإمام علامات منها: أن يكون أكبر ولد أبيه، ويكون فيه الفضل والوصية...)

Dan dari Ahmad bin Abi Nashr, beliau berkata: "Aku berkata kepada Abi Al-Hasan Al-Redha (as): Jika imam mati, dengan apa diketahui siapa selepasnya? Beliau berkata: Imam itu ada tanda-tandanya, antaranya: Dia anak yang paling besar pada bapanya, dan dia yang terunggul dan diwasiatkan ...) [184].

Dan dari Abdul A3la, dia berkata: Aku berkata kepada Abi Abdillah (as): "Siapa yang terikat dengan urusan ini adalah yang mendakwanya, apakah dia Al-Hujjah?" Dia berkata: Tanyakan tentang halal dan haram. Katanya lagi: Kemudian dia menghadap kepadaku dan berkata: Tiga perkara pada Al-Hujjah yang tidak berkumpul (ada) pada sesiapa pun kecuali pemilik urusan ini: Menjadi manusia yang lebih utama yang ada di hadapannya, yang memiliki senjata (ilmu), dan pemilik wasiat yang jelas ...) [185].

Dari Ahmad bin Umar, dari Al-Redha (as): dia berkata: (Saya bertanya kepada beliau mengenai tanda (petunjuk) pemilik urusan, dia berkata: Tandanya: keunggulan, keutamaan dan wasiat...) [186].

Dan dari Abi Bashir berkata: "Aku berkata kepada Abi Al-Hasan (as):" Semoga aku menjadi tebusanmu, dengan apa Imam dikenali? katanya: Beliau berkata: dengan sifat-sifat; Yang pertama adalah sesuatu yang telah disampaikan oleh bapanya sebagai isyarat kepadanya untuk menjadi hujjah ..." [187].

Dan dari Harits bin Al-Mughirah Al-Nadhri, berkata: (Kami berkata kepada Abi Abdullah (as): dengan apa dikenal pemilik urusan ini. Beliau berkata: dengan ketenangan, kesungguhan (Al-Waqaar), Ilmu dan wasiat)  [188].

Dan Al-Syed Ahmad Al-Hassan berhujjah dengan wasiat Rasulullah (S) yang saya sebutkan ... dsb.


Al-Lajnah Al-3ilmiyah (Lujnah Ilmu)
Ansar Al-Imam Al-Mahdi (Semoga Allah menempatkannya di bumi.)

Profesor Razak Al-Ansari

Sya3ban Al-Khair / 1430 AH


✡✡✡✡✡

--------------------
[178] - Munaqib Al-3itarah/ Wa Mi’atan Wa Khamsun 3alamat: hal 130 .
[179] - Bihar Al-Anwar: J  52 hal 27-28.
[180] - Bihar Al-Anwar: J  52 hal 90.
[181] – Al-Mu3jam Al-Maudhu3i: hal 570.
[182] - Bihar Al-Anwar: J  52 hal 27 dan yang selepasnya
[183] - Al-Kafi: J 1 hal 314 - 315.
[184] - Al-Kafi: J 1 hal 314.
[185] - Al-Kafi: J 1 hal 314.
[186] - Al-Kafi: J 1 hal 315.
[187] - Al-Kafi: J 1 hal 315.
[188] - Bihar Al-Anwar: J  52 hal 138.


Jumaat, 12 Julai 2019

Soalan 381: Dalil Ringkas


Soalan 381: Dalil Ringkas

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Apakah dalil praktikal dan ilmiah anda dan bukti bukti-bukti amaliah dan ilmiah untuk orang pertengahan yang tidak dapat membezakan yang baik dari yang buruk? Semoga Allah membantu kita dan kepada anda atas khidmat  golongan yang mulia.

Pengirim: Ahmad – Mesir

Jawapan:

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، وصلى الله على محمد وآل محمد الأئمة والمهديين وسلم تسليماً.

Tidak jelas maksud anda tentang dalil praktikal (kebendaan), Sekiranya anda bermaksud kewujudan tanda-tanda fizikal (jasmani) yang terkandung dalam riwayat terhadap Al-Syed Ahmad Al-Hassan (as), ianya terdapat seperti yang disaksikan oleh ramai yang melihatnya. Tetapi jika anda maksudkan mukjizat dan karamah kebendaan, ia juga wujud dan anda dapat melihat sebahagian darinya dalam kitab-kitab saudara ansar, terutama kitab (Karamat Wa Ghaibiyat). Adapun bukti-bukti ilmiah atas kebenaran dakwah yang diberkati ada banyak sekali, antaranya bahawa dakwah yang mulia adalah satu-satunya di dunia ini, yang menyeru kepada Hakimiyah Allah (Ketuanan Allah - Pemerintahan Allah) dan perlantikan penguasa ilahi, yang merupakan satu-satunya yang menyentuh beriman dengannya dengan taufiq ilahi melalui penglihatan-penglihatan (rukya), kasyaf-kasyaf, membenarkan alamat-alamat kezuhuran dalam kemunculannya. Ia adalah satu-satunya yang tiada pengampu dalam agama Allah walaupun semua orang kini mengampu Dajjal Amerika, yang hanya mengambil dari Al-Quran dan ilmu pengetahuannya dalam menyebarkan dalil-dalil, Bahkan ia juga satu-satunya yang menyeru keoada semua agama samawi untuk berdialog dan berbahas dan kepada semuanya dengan kitab tulisannya untuk mengetahui pemilik kebenaran, yang merupakan satu-satunya yang membawa dalil tsaqalain iaitu Al-Quran dan Al-‘Itrah dan ridak selain kedua-duanya dari pandangan manusia yang bukan orang-orang Maksum.

Adapun dalil ilmiah yang ringkas (mudah) yang diminta maka memadalah dengan mengetahui bahawa Al-Syed Ahmad Al-Hassan (as) telah di-nash-kan untuknya dalam wasiat Rasulullah (S) pada malam kewafatan baginda iaitu di-nash-kan kepadanya sebagai seorang dari aushiak dan dia (as) adalah washi Imam Mahdi, dan anda boleh mendapatkan kitab-kitab saudara-saudara ansar untuk melihat dalil kukuh bahawa wasiat Rasulullah (S) tidak boleh dituntut melainkan oleh pemiliknya, dan wasiat merupakan syarat pertama dari peraturan (syarat-syarat) untuk mengenal Al-Hujah yang di-nash-kan oleh ayat-ayat Al-Quran dan riwayat-riwayat Aali Muhammad (as), dan syarat kedua yang terakhir adalah ilmu dan Hakimiyah Allah yang telah disebutkan mengenai kedua-duanya.

سُئل أبو عبد الله (ع) بأي شيء يُعرف الإمام ؟ قال: (بالوصية الظاهرة وبالفضل، إن الإمام لا يستطيع أحد أن يطعن عليه في فم ولا بطن ولا فرج فيقال: كذاب ويأكل أموال الناس وما أشبه هذا)

Abu Abdillah (as) telah ditanya: Dengan apa kita mengenal Al-Imam? Beliau berkata: (Dengan wasiat yang jelas dan dengan keutamaan (kelebihan), Bahawa imam tidak boleh dicabar pada mulut atau perut atau Faraj dengan mengatakan: dia pendusta dan makan harta manusia dan apa yang serupa dengannya) [170].

Dan dari Ahmad bin Abi Nashr, beliau berkata: "Aku berkata kepada Abi Al-Hasan Al-Redha (as): Jika imam mati, dengan apa diketahui siapa selepasnya? Beliau berkata: Imam itu ada tanda-tandanya, antaranya: Dia anak yang paling besar pada bapanya, dan dia yang terunggul dan diwasiatkan ...) [171].,

وعن عبد الأعلى، قال: قلت لأبي عبد الله (ع): (المتوثب على هذا الأمر المدعي له، ما الحجة عليه ؟ قال: يُسأل عن الحلال والحرام، قال: ثم أقبل عليَّ فقال: ثلاثة من الحجة لم تجتمع في أحد إلا كان صاحب هذا الأمر: أن يكون أولى الناس بمن كان قبله، ويكون عنده السلاح، ويكون صاحب الوصية الظاهرة ...)

Dan dari Abdul A3la, dia berkata: Aku berkata kepada Abi Abdillah (as): "Siapa yang terikat dengan urusan ini adalah yang mendakwanya, apakah dia Al-Hujjah?" Dia berkata: Tanyakan tentang halal dan haram. Katanya lagi: Kemudian dia menghadap kepadaku dan berkata: Tiga perkara pada Al-Hujjah yang tidak berkumpul (ada) pada sesiapa pun kecuali pemilik urusan ini: Menjadi manusia yang lebih utama yang ada di hadapannya, yang memiliki senjata (ilmu), dan pemilik wasiat yang jelas ...) [172].

عن أحمد بن عمر، عن الرضا (ع)، قال: (سألته عن الدلالة على صاحب الأمر، فقال: الدلالة عليه: الكبَر والفضل والوصية ...)

Dari Ahmad bin Umar, dari Al-Redha (as): dia berkata: (Saya bertanya kepada beliau mengenai tanda (petunjuk) pemilik urusan, dia berkata: Tandanya: keunggulan, keutamaan dan wasiat...) [173].

وعن أبي بصير، قال: (قلت لأبي الحسن (ع): جُعلت فداك بم يُعرف الإمام ؟ قال: فقال: بخصال؛ أما أولها فإنه بشيء قد تقدم من أبيه فيه بإشارة إليه لتكون عليهم حجة ...)

Dan dari Abi Bashir berkata: "Aku berkata kepada Abi Al-Hasan (as):" Semoga aku menjadi tebusanmu, dengan apa Imam dikenali? katanya: Beliau berkata: dengan sifat-sifat; Yang pertama adalah sesuatu yang telah disampaikan oleh bapanya sebagai isyarat kepadanya untuk menjadi hujjah ..." [174]

وعن الحارث بن المغيرة النضري، قال: (قلنا لأبي عبد الله (ع): بما يعرف صاحب هذا الأمر؟ قال: بالسكينة والوقار والعلم والوصية)

Dan dari Harits bin Al-Mughirah Al-Nadhri, berkata: (Kami berkata kepada Abi Abdullah (as): dengan apa dikenal pemilik urusan ini. Beliau berkata: dengan ketenangan, kesungguhan (Al-Waqaar), Ilmu dan wasiat) [175].

Dan saya akan sampaikan kepada anda sekarang wasiat Rasulullah (S):

(قال رسول الله (ص) في الليلة التي كانت فيها وفاته لعلي (ع): يا أبا الحسن أحضر صحيفة ودواة، فأملا رسول الله (ص) وصيته حتى انتهي إلى هذا الموضع فقال: يا علي، إنه سيكون بعدي إثنا عشر إماماً ومن بعدهم إثنا عشر مهدياً، فأنت يا علي أول الإثني عشر إماماً، سمّاك الله تعالى في سمائه علياً المرتضى وأمير المؤمنين والصديق الأكبر والفاروق الأعظم والمأمون والمهدي فلا تصح هذه الأسماء لأحد غيرك.
يا علي، أنت وصيي على أهل بيتي حيّهم وميتهم وعلى نسائي فمن ثبتها لقيتني غداًً ومن طلقتها فأنا برئ منها لم ترني ولم أرها في عرصة القيامة، وأنت خليفتي على أمتي من بعدي فإذا حضرتك الوفاة فسلّمها إلى ابني الحسن البر الوصول، فإذا حضرته الوفاة فليسلّمها إلى ابني الحسين الشهيد الزكي المقتول، فإذا حضرته الوفاة فليسلّمها إلى ابنه سيد العابدين ذي الثفنات علي، فإذا حضرته الوفاة فليسلّمها إلى ابنه محمد الباقر، فإذا حضرته الوفاة فليسلّمها إلى ابنه جعفر الصادق، فإذا حضرته الوفاة فليسلّمها إلى ابنه موسى الكاظم، فإذا حضرته الوفاة فليسلّمها إلى ابنه علي الرضا، فإذا حضرته الوفاة فليسلّمها إلى ابنه محمد الثقة التقي، فإذا حضرته الوفاة فليسلّمها إلى ابنه علي الناصح، فإذا حضرته الوفاة فليسلّمها إلى ابنه الحسن الفاضل، فإذا حضرته الوفاة فليسلّمها إلى ابنه محمد المستحفظ من آل محمد،
فذلك إثنا عشر إماماً، ثم يكون من بعده إثنا عشر مهدياً، فإذا حضرته الوفاة فليسلّمها إلى ابنه أول المقربين (المهديين) له ثلاثة أسامي أسم كاسمي وأسم أبي وهو عبد الله وأحمد، والاسم الثالث المهدي وهو أول المؤمنين)

Rasulullah (S) bersabda kepada Ali (as) pada malam sebelum kewafatan baginda: Wahai Abal Hassan (Ali as) bawakan lembaran tulis dan dakwat. Maka Rasulullah (S) telah menyebutkan wasiatnya untuk dicatatkan sehinggalah ia sampai kepada noktah berikut, baginda (S) bersabda:

Wahai Ali sesungguhnya akan ada selepasku dua belas orang Imam dan selepas mereka duabelas orang Mahdi, engkau wahai Ali adalah yang pertama di kalangan duabelas orang Imam tersebut, Allah menamakan engkau di langitNya; Ali Al Murtadha, Amirul Mukminin, Siddiq Al-Akbar, Faruq Al-A’zham, Al-Makmun, dan Al-Mahdi, tiada sesiapapun dibenarkan memakai nama-nama ini. Wahai Ali, engkau adalah pemegang wasiatku ke atas Ahlulbaytku ketika mereka masih hidup mahupun setelah mereka mati, dan ke atas isteri-isteriku: barangsiapa yang engkau kekalkannya akan bertemu denganku besok, barangsiapa yang engkau ceraikan maka aku berlepas diri darinya, dan dia takkan dapat melihat aku dan aku tidak melihatnya pada hari kiamat. Engkau adalah khalifah ku ke atas umatku selepas aku, apabila maut menghampirimu, maka hendaklah diserahkannya (khilafah) kepada anakku Al-Hassan Al-Birr Al-Wusul. Dan apabila maut menghampirinya, maka hendaklah diserahkannya kepada anakku Al-Hussain yang syahid lagi cerdik dan dibunuh. Dan apabila maut menghampirinya, maka hendaklah diserahkannya kepada anaknya penghulu segala abid Ali. Dan apabila maut menghampirinya, maka hendaklah diserahkannya kepada anaknya Muhammad Al-Baqir. Dan apabila maut menghampirinya, maka hendaklah diserahkan kepada anaknya Ja’afar Al-Shadiq. Dan apabila maut menghampirinya, maka hendaklah diserahkannya kepada anaknya Musa Al-Kadzim. Dan apabila maut menghampirinya, maka hendaklah diserahkannya kepada anaknya Ali Al-Ridha. Dan apabila maut menghampirinya, maka hendaklah diserahkannya kepada anaknya Muhammad Al-Tsiqah Al-Taqiy. Dan apabila maut menghampirinya, maka hendaklah diserahkannya kepada anaknya Ali Al-Nashih. Dan apabila maut menghampirinya, maka hendaklah diserahkannya kepada anaknya Al-Hassan Al-Fadhil. Dan apabila maut menghampirinya, maka hendaklah diserahkannya kepada anaknya Muhammad yang terpelihara daripada keluarga Muhammad alaihissalam. 

Maka itulah dua belas imam, dan akan datang selepasnya dua belas Mahdi. Dan apabila maut menghampirinya, maka hendaklah diserahkan kepada anaknya iaitu Muqarrab yang pertama (Mahdi yang pertama). Baginya tiga nama: nama seperti namaku dan nama bapaku, iaitu Abdullah (hamba Allah) dan Ahmad. Dan namanya yang ketiga adalah Al-Mahdi, dan dia adalah yang pertama beriman (dengan zuhur Imam Mahdi a.s). [176].

Ia mungkin berguna sekarang untuk diingat bahawa wasiat itu tidak boleh dituntut oleh bukan pemilik.

فعن محمد بن الفضل، عن الرضا (ع): (في حديث طويل إنه حضر في البصرة في مجلس عظيم فيه جماعة من العلماء وفيه جاثليق النصارى ورأس الجالوت، فالتفت الرضا (ع) إلى الجاثليق وقال: هل دل الإنجيل على نبوة محمد (ص) ؟ قال: لو دل الإنجيل على ذلك لما جحدناه، فقال (ع): أخبرني عن السكتة التي لكم في السفر الثالث، فقال الجاثليق: اسم من أسماء الله لا يجوز لنا أن نظهره.
قال الرضا (ع): فإن أقررتك إنه اسم محمد ... (وبعد أن ذكر الإمام (ع) ما جاء في الإنجيل والتوراة من ذكر للرسول (ص)، أي ذكره لوصية موسى وعيسى (عليهما السلام) بمحمد (ص)) قالا - أي الجاثليق ورأس الجالوت -: والله لقد أتى بما لا يمكننا رده ولا دفعه إلا بجحود الإنجيل والتوراة والزبور، وقد بشر به موسى وعيسى عليهما السلام جميعاً، ولكن لم يتقرر عندنا بالصحة إنه محمد هذا، فأما اسمه محمد فلا يصح لنا أن نقر لكم بنبوته ونحن شاكون إنه محمدكم. فقال الرضا (ع): احتججتم بالشك، فهل بعث الله من قبل أو من بعد، من آدم إلى يومنا هذا نبياً اسمه محمد ؟ فأحجموا عن جوابه... الخ)

 Maka dari Muhammad bin Al-Fadhl, dari Al-Redha (as):  (Dalam satu hadits yang panjang yang beliau telah menghadiri majlis besar di Basrah, terdapat sekumpulan ulama, dan terdapat Kristian Katolik dan ketua Al-Jalut , Maka berpaling Al-Redha (as) kepada Si Katolik dan berkata: Adakah Injil menunjukkan nubuawah Muhammad (S) dia berkata: Jika Injil menunjukkannya untuk apa kami mengingkarinya, beliau (as) berkata: Beritahu aku pada yang kamu diamkan dalam Kitab ketiga, Si Katolik berkata: nama dari nama-nama Allah tidak dibenarkan bagi kami menunjukkannya.

Al-Redha (as) berkata: Jika aku sebutkan kepada kamu bahawa itu adalah nama Muhammad ... (Kemudian Imam (as) menyebutkan apa yang ada di dalam Injil dan Taurat yang menyebutkan Al-Rasul (S). Iaitu menyebut tentang wasiat Musa dan Isa (as) pada Muhammad, (S): kedua-duanya berkata – Si Katolik dan ketua Al-Jalut  "Demi Allah telah datang kepada kami dengan apa yang kami tidak dapat menolaknya atau melaksanakannya kecuali dengan mengingkari Injil, Taurat, dan Zabur (as): Telah memberitakannya Musa dan Isa kepada semua, tetapi pada kami, tidak mengakuinya bahawa ianya adalah Muhammad ini. Adapun namanya Muhammad tidaklah wajar bagi kami untuk mengakui kenabiannya, dan kami ragu bahawa dia adalah Muhammad kamu. Al-Redha (as) berkata: Kamu beralasan dengan keraguan kamu, adakah Allah pernah mengutus sebelum atau sesudahnya, dari Adam hingga hari ini seorang nabi bernama Muhammad? Oleh itu, maka mereka tidak menjawabnya ... hingga akhir) [177].

Saksi pada riwayat ini adalah Imam Al-Redha (as) berhujjah atas kebenaran nubuawah Al-Rasul Al-Karim (S) seperti yang dinyatakan di dalam Taurat dan Injil yang menyebut atau berwasiat terhadap baginda (S), Maka Si Katolik dan ketua Al-Jalut mengakui dengan pernyataan nama Al-Rasul (S), tetapi mereka ragu-ragu bahawa pemilik nama adalah nama Rasulullah (S) sendiri dan bukan yang lain, Imam (as) menjawab: Kamu beralasan dengan keraguan kamu, adakah Allah mengutus sebelum atau selepasnya, dari Adam hingga ke hari ini seorang nabi bernama Muhammad?

Dan saya katakan kepadamu: Apakah ada sesiapa yang mentuntut sebelum Al-Syed Ahmad Al-Hassan (as) bahawa dia adalah anak kepada Imam Mahdi (as) dan washinya, dan berhujjah atas kamu dengan wasiat Rasulullah (S), sebagai mana Imam Al-Redha (as) berhujjah atas kenabian Al-Rasul (S) dengan wasiat Musa dan Isa pada baginda? Sejarah ini ada di hadapan anda maka jika anda suka ianya boleh diputar balikkan halamannya, dan Demi Allah tidak pernah ada sesiapa yang mendakwa hal ini di sebelumnya,

Sekiranya anda menerima hujjah-hujjah Al-Redha (as), anda harus menerima hujjah-hujjah Al-Syed Ahmad Al-Hassan (as) dengan wasiat tersebut.

Kita perlu tahu bahawa keterangan Al-Syed Ahmad Al-Hassan (as)  tidak berhenti pada takat ini sahaja, ianya adalah lebih banyak bagi sesiapa yang mahu mengira dalam sebutan ini  dengan segera tetapi tidak ada masalah untuk menyebutnya bahawa dia (as) disokong oleh Kerajaan Langit (Malakut Al-Samaa’) melalui rukya dan mukasyasafah (kasyaf-kasyaf), dan bahawa dia (as) telah mencabar ahli-ahli ilmu semua Agama-agama ilahi untuk bermubahalah dan bersumpah tidak bersalah. Pada keadaan tertentu, anda boleh menghadap kepada Allah SWT untuk mendapatkan rukya benar yang mententeramkan hati ​​dan mudah-mudahan Allah Taala memberi rukya solehah.

Kesimpulannya, saya fikir adalah perlu untuk setiap pencari kebenaran untuk merujuk kitab-kitab saudara-saudara ansar untuk mendapatkan keterangan yang lebih teliti dan terperinci untuk semua yang saya sebutkan kepada anda dan mengetahui dalil-dalil syar’ei dan bukti bukti jelas dari nokhtah he nokhtah yang disebutkan dan dari Allah jua datangnya taufiq..

                            
Al-Lajnah Al-3ilmiyah (Lujnah Ilmu)
Ansar Al-Imam Al-Mahdi (Semoga Allah menempatkannya di bumi.)
                                                  
Syeikh Nadzim Al-3uqailiy        

Sha3ban Al-Khair / 1430 H


✡✡✡✡✡

----------------------
[160]- Al-Taubah 9:105.
[161]- Al-Shaf 61:8.
[170]- Al-Kafi: J 1 hal 314 - 315.
[171]- Al-Kafi: J 1 hal 314.
[172]- Al-Kafi: J 1 hal 314.
[173]- Al-Kafi: J 1 hal 315.
[174]- Al-Kafi: J 1 hal 315.
[175]- Bihar Al-Anwar: J  52 hal 183.
[176]- Al-Ghaybat – Al-Thusi: hal 150.
[177]- Itsbat Al-Hadah: hal 194 - 195.